“Jadi seperti yang Pak Menteri umumkan, kita sekarang sedang menganalisis berbagai aspek. Salah satu aspek penting adalah aspek keselamatan,” ujar Laode.
Setala, juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan masifikasi pemanfaatan CNG dilakukan agar terdapat opsi alternatif sumber energi yang bisa digunakan oleh masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor LPG Indonesia, yang saat ini besarannya hampir sekitar 80% dari total konsumsi nasional.
“Betul [bukan untuk menggantikan LPG 3 kg secara keseluruhan]. Prinsipnya CNG diharapkan bisa menjadi alternatif untuk bisa mengurangi ketergantungan pada LPG yang notebene hampir 80%-nya masih impor,” kata Anggia ketika dihubungi, Rabu (13/5/2026).
Dua Tahun
Ekonom energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi pemerintah membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun untuk mengembangkan tabung CNG berkapasitas 3 kg.
Dia berharap program tersebut nantinya diimplementasikan di kota-kota besar di Pulau Jawa, sebelum akhirnya diterapkan secara nasional.
Yayan meyakini masifikasi CNG memberikan banyak keuntungan bagi Indonesia, sebab memiliki harga yang lebih murah sekitar 30%—40% dari LPG.
Selain itu, masifikasi CNG diprediksi Yayan bisa mengurangi subsidi hingga 30%. Dia juga mencatat CNG memiliki emisi yang lebih rendah sekitar 20%—25% dibandingkan dengan LPG.
“Saya perkirakan paling cepat tahun depan 1—2 tahun, jangan terburu-buru karena kebijakan ini sangat baik jadi harus baik, efisien, dan efektif. Mungkin yang diprioritaskan kota-kota besar di Jawa,” kata Yayan ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
Sekadar informasi, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.
Pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg tersebut diklaim memakan waktu 3 bulan, setelah itu produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat.
Kementerian ESDM juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Nantinya masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat memberikan sinyal sistem distribusi CNG 3 kg bakal mirip seperti LPG. Saat ini, kata Bahlil, Kementerian ESDM masih menyusun rencana penerapan program CNG tabung 3 kg.
“Itu kan beda-beda tipis [distribusi CNG dengan LPG]. Ini cuma yang diganti itu adalah satunya LPG, satunya CNG,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).
(azr/wdh)






























