Migrasi LPG ke CNG Dinilai Lebih Rumit dari Konversi Minyak Tanah
Azura Yumna Ramadani Purnama
12 May 2026 10:10

Bloomberg Technoz, Jakarta – Rencana pemerintah memasifkan pemanfaatan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kilogram (kg) untuk mengurangi konsumsi liquified petroleum gas (LPG) diprediksi lebih menantang dari program konversi minyak tanah ke gas minyak cair beberapa tahun lalu.
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal menduga, salah satu alasan pemerintah lebih memilih menggunakan LPG ketimbang CNG ketika menggulirkan program migrasi dari minyak tanah adalah karena aspek keamanan.
Moshe mencatat produk CNG memiliki tekanan sekitar 200 hingga 250 bar atau setara 3.600 psi, sedangkan LPG hanya sekitar 5 hingga 10 bar.
Walhasil, dia khawatir jika kini masifikasi CNG justru dilakukan melalui pemanfaatan tabung 3 kg, bakal terjadi risiko keamanan. Terlebih, tabung CNG 3 kg yang digunakan harus didesain secara khusus, bahkan terdapat potensi ukurannya lebih besar dari tabung LPG 12 kg.
“Saya sangat tidak menganjurkan ya. Itulah kenapa waktu kita konversi dari minyak tanah ke gas itu yang dipilih adalah LPG. Ada alasannya. Satu alasan utamanya yang paling kritikal adalah masalah safety. Ini bayangkan kita masyarakat ya, masyarakat menggunakan CNG,” kata Moshe ketika dihubungi, baru-baru ini.

































