Logo Bloomberg Technoz

Jika Gegabah, CNG 3 Kg Rawan Berujung Semrawut Seperti Gas Melon

Azura Yumna Ramadani Purnama
12 May 2026 12:00

Pekerja menanta tabung gas LPG subsidi 3kg di Pasar Rebo, Jakarta, Senin (20/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menanta tabung gas LPG subsidi 3kg di Pasar Rebo, Jakarta, Senin (20/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Center of Reform on Economics (Core) memandang terdapat risiko program masifikasi pemanfaatan gas alam cair atau compressed natural gas (CNG) melalui tabung 3 kilogram (kg) bisa berujung semrawut seperti liquified petroleum gas (LPG) bersubsidi, jika dijalankan dengan tidak cermat.

Peneliti Core Yusuf Rendy Manilet memandang wacana masifikasi pemanfaatan CNG digulirkan, sebab pemerintah ingin memperbaiki persoalan yang terjadi pada LPG 3 kg; seperti isu kebocoran subsidi, penerima yang tidak tepat sasaran, hingga konsumsi yang terus melebihi kuota subsidi.

Akan tetapi, Yusuf menilai, jika skema subsidi dan distribusi CNG 3 kg nantinya tetap identik dengan skema LPG 3 kg, terdapat potensi program baru tersebut berujung karut marut seperti di kasus Gas Melon.


“Kalau skema subsidi dan distribusinya tetap sama, maka CNG 3 kg berisiko menghadapi persoalan yang sama juga, bahkan dengan kompleksitas tambahan karena infrastrukturnya lebih mahal dan pengelolaan gas bertekanan tinggi lebih rumit,” kata Yusuf ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

Kompor Gas. (Sumber: Bloomberg)

Yusuf menekankan, persoalan LPG 3 kg tidak semata gegara beban impor komoditasnya, melainkan karena skema penyaluran subsidinya masih diberikan dengan berbasis barang dan bukan langsung pada penerimanya.