Logo Bloomberg Technoz

Pasar Global Gelisah, ke Mana Arah Rupiah?

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 May 2026 08:15

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) cenderung defensif dan menguat terbatas, seiring dengan perhatian investor terhadap perkembangan proposal perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. 

Rupiah offshore dibuka berubah sedikit 0,01% ke posisi Rp17.386/US$, menguat terbatas dari posisi akhir pekan lalu di Rp17.374/US$. Tak lama berselang, rupiah menebalkan apresiasi menjadi 0,07% ke posisi Rp17.374/US$. 

Pergerakan rupiah yang cenderung stagnan dan bergerak dalam rentang terbatas di pasar luar negeri menandakan bahwa investor sepertinya masih bersikap wait and see terhadap arah perkembangan konflik di Timur Tengah, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran.


Kedua negara ini dikabarkan saling menolak proposal perdamaian terbaru, dan menyebabkan pasar bereaksi dengan kenaikan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sebesar 0,14% ke posisi 98,03.

Harga minyak Brent juga kembali naik 3,28% ke US$104,6 per barel, bahkan untuk pengiriman Juni harganya sempat berada di level US$120,34 per barel, melonjak 1,96% setelah pernyataan Trump yang mengomentari proposal itu dalam media sosialnya “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA.”