Dalam proposal terbarunya, Iran akan mengencerkan sebagian uranium yang diperkaya tingkat tingginya dan mengirim sisanya ke negara ketiga, demikian laporan surat kabar tersebut dengan mengutip sumber yang mengetahui tanggapan Iran.
Namun, Iran juga meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika perundingan gagal, serta menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.
“Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kita lihat minggu lalu,” kata Jason Wong, seorang analis strategi di Bank of New Zealand. “Ini dapat berlanjut pada perdagangan awal pekan.”
Kondisi ketidakpastian ini, kembali membebani pasar. Di kawasan Asia, won Korea Selatan melemah 0,45%, disusul yen Jepang 0,15%, dolar Singapura 0,04%, dan ringgit Malaysia 0,02%. Sementara, yuan offshore dan dolar Hong Kong menguat terbatas masing-masing 0,05% dan 0,02%.
Selain itu, pasar kawasan juga mencermati dampak perang terhadap data ekonomi, termasuk inflasi serta arah kebijakan suku bunga dari bank sentral utama.
Pasar juga akan mencermati arah hasil pembicaraan antara Presiden AS dan China, Xi Jinping yang dijadwalkan pada pekan ini. Pendekatan China terhadap Iran disebut-sebut akan menjadi salah satu topik bahasan dalam pertemuan tersebut.
Sementara dari kawasan, data ekonomi mulai mencerminkan dampak dari perang. Negara seperti China, dan India pekan ini akan merilis data inflasi. Sementara dari Korea Selatan, tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 2,9% pada April, dari 2,7% pada bulan sebelumnya. Hal ini terjadi akibat adanya gangguan rantai pasok yang dipicu perang AS-Iran.
Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi yang dirilis pekan lalu juga turut membebani pasar. Meski pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61% melampaui ekspektasi ekonom, namun dampak terhadap sektor riil yang masih minim masih menciptakan sentimen di pasar.
Pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Data ini penting untuk membaca seberapa kuat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan ke depan.
Pergerakan IKK ini juga akan jadi petunjuk awal mengenai daya tahan konsumsi rumah tangga, yang selama ini masih menjadi andalan utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan global dan tekanan eksternal.
Jika keyakinan konsumen tetap tinggi, pasar dapat melihat bahwa belanja masyarakat masih cukup solid, meski dibayangi kenaikan harga pangan, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian global.
Sebaliknya, jika IKK tercatat melemah dan mengalami penurunan, dapat jadi sinyal mulai tertahannya konsumsi domestik akibat tekanan daya beli dan tingginya biaya hidup, lantaran inflasi.
Sementara itu, di tengah defisit kuartal I-2026 yang mencapai Rp240 triliun, pemerintah merencanakan untuk memberlakukan kenaikan tarif royalti sejumlah komoditas utama seperti tembaga, emas, dan timah sebagai upaya memanfaatkan lonjakan harga global sekaligus meningkatkan penerimaan negara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam konsultasi publik PP No 19/2025 mengusulkan kenaikan tarif royalti komoditas mineral, usulan penambahan jenis dan tarif iuran baru, serta penyesuaian skema royalti untuk mineral ikutan.
Kenaikan tarif royalti untuk konsentrat tembaga menjadi 95-13% dan katoda tembaga menjadi 7%-10%. Kementerian ESDM juga mengajukan kenaikan tarif royalti untuk emas dan timan, serta berencana menyesuaikan rentang dan ambang batas royalti bijih nikel.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), termasuk royalti, menyumbang sekitar seperlima total pendapatan negara pada kuartal I tahun ini. Kebijakan ini menekan pergerakan harga saham perusahaan tambang pada perdagangan hari terakhir pekan lalu.
Belanja ekspansif pemerintah yang naik 21,8% di kuartal I-2026 meningkat tajam dari kuartal sebelumnya yang hanya 4,5%, membutuhkan dukungan arus pendapatan yang jauh lebih kuat untuk menjaga defisit agar tidak melorot lebih jauh.
Sebagai catatan, defisit anggaran saat ini memang masih aman 0,98% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Akan tetapi, ruang fiskal mulai menunjukkan tanda-tanda penyempitan di tengah perlambatan penerimaan negara dan meningkatnya tekanan global.
Jika belanja terus dipacu sementara pemerinmaan tidak tumbuh sepadan, maka tekanan terhadap pembiayaan APBN berpotensi meningkat pada kuartal selanjutnya.
Di tengah kondisi ini, pegerakan rupiah menjadi kian rentan dan pergerakan imbal hasil yang terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) termasuk penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang memiliki imbal hasil tinggi dapat mengerek kenaikan bunga utang.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berisiko lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp17.400/US$ sampai dengan Rp17.450/US$.
Level selanjutnya pelemahan rasanya tertahan di ke Rp17.500/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam sepekan perdagangan, rupiah mengonfirmasi tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi membentuk All Time Low baru.
Namun apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, maka resistance terdekat dapat menuju Rp17.340/US$. Rentan gerak rupiah dalam resistance ada di Rp17.300 sampai dengan Rp17.100/US$.
(riset/aji)



























