Menyusul rupiah, ada peso Filipina, baht Thailand, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dolar Singapura, yuan China, dan yen Jepang. Hanya dolar Taiwan dan Hong Kong yang mencoba defensif meski perubahannya tipis saja 0,04% dan 0,02%.
Perang yang masih jauh dari kata damai, terus menggempur pasar energi dan menyebabkan gangguan pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz kembali.
Pelemahan rupiah juga menyengat pasar surat utang, dan menyebabkan aksi jual sejak kemarin. Kenaikan imbal hasil merata terjadi di hampir semua tenor.
Untuk tenor pendek seperti 1 tahun imbal hasil naik 2,5 bps ke 5,71%, disusul tenor 3 tahun naik 10,6 bps ke 6,21%. Imbal hasil tenor 5 tahun dan 6 tahun juga tercatat naik masing-masing 9,8 bps ke 6,46% dan 5,1 bps ke 6,47%.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya meredam gejolak nilai tukar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. Intervensi dilakukan di pasar offshore NDF, spot dan DNDF domestik.
Selain itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui instrumen spot dan swap dalam mata uang yuan offshore untuk mendukung rupiah serta memperluas transaksi menggunakan mata uang lokal.
(mfd/ell)






























