Logo Bloomberg Technoz

Naik 8,2%, Realisasi Investasi Hilirisasi Q1-2026 Capai Rp147,5 T

Pramesti Regita Cindy
23 April 2026 11:40

Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Rosan Perkasa saat konfrensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan di Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Bloomberg Technoz/Andre)
Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Rosan Perkasa saat konfrensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan di Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Bloomberg Technoz/Andre)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi di sektor hilirisasi pada triwulan I-2026 mencapai Rp147,5 triliun atau setara 29,6% dari total realisasi investasi nasional pada periode tersebut. Nilai investasi hilirisasi itu tercatat meningkat 8,2% secara tahunan dibandingkan triwulan I-2025 yang sebesar Rp136,3 triliun.

“Kalau dilihat ya tentunya investasi di bidang hilirisasi ini di luar Jawanya jauh lebih signifikan daripada Jawa. Karena memang ini terutama di daerah Sulawesi dan Maluku Utara jadi kalau dilihat di luar Jawanya kurang lebih 75,5% atau Rp111,4 triliun dibandingkan di Jawa hanya Rp36,1 triliun atau 24,5%,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM Rosan P. Roeslani dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan I Tahun 2026, Kamis (23/4/2026). 

Sulawesi Tengah menjadi lokasi investasi hilirisasi terbesar pada triwulan I-2026 dengan nilai mencapai Rp24,1 triliun. Posisi berikutnya ditempati Maluku Utara sebesar Rp18,6 triliun, Jawa Barat Rp13 triliun, Nusa Tenggara Barat Rp12,9 triliun, dan Kepulauan Riau Rp9,6 triliun.


BKPM juga mencatat investasi hilirisasi masih didominasi penanaman modal asing (PMA) dengan kontribusi 66,7% atau sebesar Rp98,4 triliun. Sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp49,1 triliun atau 33,3% dari total investasi hilirisasi.

Berdasarkan negara asal investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI), Singapura menjadi investor terbesar di sektor hilirisasi dengan nilai investasi mencapai Rp35,9 triliun. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar Rp22,9 triliun, China Rp17,6 triliun, Jepang Rp4,6 triliun, dan Amerika Serikat sebesar Rp4,3 triliun.