Logo Bloomberg Technoz

100 Pemerintahan Negara di Dunia Punya Spyware untuk Retas Ponsel

Merinda Faradianti
23 April 2026 12:12

Ancaman pengintaian oleh pemerintahan sebuah negara dengan aplikasi spyware. (Diolah)
Ancaman pengintaian oleh pemerintahan sebuah negara dengan aplikasi spyware. (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Institusi intelijen Inggris mengungkap fakta bahwa lebih dari 100 negara di dunia dapat mengakses ke perangkat spyware komersial dengan kemampuan meretas ponsel dan komputer untuk mencuri data sensitif.

U.K. National Cyber Security Centre meyakini bahwa menyatakan bahwa penyebaran teknologi pengawasan tersebut semakin meluas. Bahkan, jumlah negara yang memiliki kemampuan ini meningkat dari sekitar 80 negara pada 2023 menjadi lebih dari 100 negara saat ini, mengutip laporan Politico, Kamis (23/4/2026).

Lembaga siber Inggris itu menilai, ancaman ini masih sering diremehkan, dimana kepala NCSC Richard Horne, menyatakan bahwa banyak perusahaan belum memahami skala risiko yang ada.

Spyware komersial umumnya dikembangkan oleh perusahaan swasta dan digunakan untuk mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat. Teknologi ini memungkinkan peretas atau hacker masuk ke dalam ponsel atau komputer dan mengambil data.

Meski banyak pemerintah mengklaim penggunaan spyware hanya ditujukan untuk memantau pelaku kriminal atau terorisme, berbagai pihak telah lama memperingatkan potensi penyalahgunaannya. Teknologi tersebut disebut telah digunakan untuk menargetkan jurnalis, aktivis, hingga lawan politik.

Intelijen Inggris juga mencatat bahwa target serangan kini semakin meluas. Tidak hanya tokoh politik atau aktivis, tetapi juga kalangan profesional seperti bankir dan pelaku bisnis kaya.

Horne menegaskan, sebagian besar serangan siber besar terhadap Inggris justru berasal dari negara asing, bukan sekadar kelompok kriminal siber. Selain itu, ancaman spyware juga tidak hanya datang dari pemerintah.

Alat peretasan yang sebelumnya terbatas kini mulai bocor ke publik. Salah satunya bernama DarkSword, yang sempat beredar dan memungkinkan siapa pun mengeksploitasi perangkat seperti iPhone dan iPad yang belum diperbarui.

Temuan ini memperlihatkan bahwa hambatan untuk mengakses teknologi peretasan semakin rendah, sehingga meningkatkan risiko terhadap individu, perusahaan, hingga infrastruktur penting.