Logo Bloomberg Technoz

Alarm Stagflasi dan Rapuhnya Kelas Menengah Indonesia

Redaksi
23 April 2026 10:59

Pekerja kantor berjalan di jalur pedestrian di jalan Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa (2/9/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja kantor berjalan di jalur pedestrian di jalan Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa (2/9/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah perang Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko stagflasi, tekanan terhadap kelas menengah Indonesia semakin terlihat jelas.

Kenaikan harga minyak mentah secara langsung memperbesar imported inflation, terutama melalui komponen transportasi dan harga pangan, yang akhirnya dapat menggerus daya beli rumah tangga.

Dalam struktur sosial-ekonomi, kelas menengah berada pada posisi yang serba tanggung. Berbeda dengan kelompok berpendapatan rendah yang relatif terlindungi dengan adanya berbagai program bantuan sosial dan subsidi, kelas menengah tak punya bantalan kebijakan yang memadai.


Kelas menengah kerap dianggap terlalu 'kaya' untuk menerima bantuan sosial. Namun secara pendapatan juga tidak terlalu tinggi untuk bisa terbebas dari kekhawatiran akan inflasi.

Dengan adanya dampak perang yang berlangsung lama, inflasi diperkirakan cenderung persisten.