Bila migrasinya mencapai 10%, Josua memprediksi tambahan konsumsi LPG bersubsidi bakal mencapai 37.000 ton per bulan atau setara 223.300 ton per tahun.
Selanjutnya, jika migrasi konsumsi LPG 12 Kg ke Gas Melon mencapai 15% maka konsumsi LPG bersubsidi dapat melonjak 55.600 ton per bulan atau sekitar 666.800 ton per tahun.
“Jika dipotret terhadap realisasi Januari–Februari 2025, pertumbuhan volume LPG 3 kg yang saat ini masih berada di level 7,5% berpotensi meningkat signifikan seiring skenario perpindahan konsumsi. Dalam skenario tambahan permintaan 5%, pertumbuhan diperkirakan naik menjadi sekitar 12,9%. Sementara pada skenario 10%, pertumbuhan dapat mencapai 18,3%, dan pada skenario 15% berpotensi menembus 23,6%,” ujarnya.
Sekadar catatan, kuota LPG bersubsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 ditetapkan 8,31 juta ton dan dianggarkan senilai Rp80,3 triliun.
Peluang Migrasi
Di sisi lain, Josua meyakini selisih harga LPG 12 Kg dan LPG 3 Kg yang melebar dapat memperbesar peluang migrasi konsumsi Gas Melon.
Risiko tersebut dinilai makin relevan karena beberapa indikator rumah tangga menunjukkan tekanan. Dia mencatat kelas menengah dan menuju kelas menengah yang menopang 81% konsumsi rumah tangga menyusut dari 21,45% populasi pada 2019 menjadi sekitar 16,6% pada 2025.
Pada saat yang sama, kata Josua, realisasi penyaluran LPG 3 kg sampai akhir Februari 2026 sudah naik 7,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Kalau migrasi itu benar terjadi, risikonya bukan cuma beban APBN, tetapi juga risiko salah sasaran dan gangguan pasokan di lapangan,” ujar Josua.
“Jadi, kenaikan harga LPG nonsubsidi jelas memperbesar insentif migrasi ke LPG 3 kg,” tegas dia.
PT Pertamina (Persero) memutuskan menaikkan harga LPG nonsubsidi usai sebelumnya menaikkan sejumlah jenis harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada akhir pekan lalu.
Mengutip dari situs resmi Pertamina Patra Niaga (PPN), per 18 April 2026, harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kg dan 5,5 kg mengalami penyesuaian di sejumlah provinsi.
Untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, harga LPG 12 kg ditetapkan sebesar Rp228.000/tabung atau naik Rp36.000 dari harga sebelumnya.
Sementara itu, harga LPG 5,5 kg berada di level Rp107.000/tabung atau naik Rp17.000 dibandingkan dengan harga sebelumnya.
Untuk wilayah Indonesia timur seperti Maluku dan Papua, harga LPG 12 kg mencapai Rp285.000/tabung dan LPG 5,5 kg mencapai Rp134.000/tabung.
Berdasarkan data Ditjen Migas Kementerian ESDM, kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
(azr/wdh)






























