Logo Bloomberg Technoz

China-India Berburu Cadangan Minyak Alternatif, RI Bisa Bersaing?

Pramesti Regita Cindy
23 April 2026 11:00

Kapal tanker kimia Ivani mendekati dermaga di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta./Bloomberg- Dimas Ardian
Kapal tanker kimia Ivani mendekati dermaga di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta./Bloomberg- Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kalangan pakar migas mendesak pemerintah tidak hanya mengandalkan diplomasi, tetapi juga menyiapkan anggaran lebih besar untuk mengamankan impor minyak di tengah situasi pasar energi global yang makin tidak menentu.

Terlebih, dua importir minyak terbesar dunia—China dan India — kembali getol mencari pasokan minyak untuk ketahanan energi mereka, imbas dari dampak perang selama lebih dari tujuh pekan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Dalam kaitan itu, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal menilai persaingan mendapatkan pasokan minyak tentunya akan makin ketat, sehingga faktor harga dan kedekatan geopolitik menjadi penentu utama.


Dalam kondisi pasokan terbatas, pihak pemasok biasanya akan cenderung memprioritaskan mitra dengan hubungan jangka panjang, bukan sekadar pembeli dengan harga tertinggi.

"Karena supplier akan melihat siapa yang dekat sama mereka. Bukan masalah bisa ngasih uang lebih dan lain sebagainya. Karena supplier-supplier ini kebanyakan adalah state-owned company," kata Moshe saat dihubungi, Kamis (23/4/2026). 

Tanker minyak di pelabuhan China./dok. Bloomberg