Logo Bloomberg Technoz

“Hal ini memerlukan kajian detail agar industri dalam negeri bisa berkembang dan berkelanjutan, sehingga tidak akan terulang kondisi yang sama dengan industri nikel yang pembangunan smelter-nya tidak memperhatikan keseimbangan neraca sumber daya dan cadangan serta neraca supply-demand global,” tegas dia.

Proyeksi kapasitas produksi alumina di Indonesia. (Bloomberg)

Lebih lanjut, Rizal mencatat saat ini Indonesia memiliki sekitar 7,7 miliar sumber daya bijih bauksit dan cadangan bijih bauksit sekitar 2,86 miliar ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia menjadi negara dengan cadangan bijih bauksit terbesar ke-4 secara global.

Dia menjelaskan bahwa bijih bauksit dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan alumina dan aluminium yang dimanfaatkan untuk berbagai industri.

Saat ini, kata dia, baru terdapat 3 pabrik pengolahan bauksit untuk menghasilkan alumina dengan jenis chemical grade alumina (CGA) dan smelter grade alumina (SGA). Dua smelter tersebut berlokasi di Kalimantan Barat dan satu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Rizal mencatat kebutuhan bijih bauksit untuk tiga pabrik pengolahan tersebut hanya sekitar 33,75 juta ton per tahun.

Butuh Investor Selain China

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina umumnya dilakukan oleh pengusaha Indonesia dengan membentuk usaha patungan atau joint venture (JV) atau usaha patungan dengan perusahaan asing, terutama dari China.

Terlebih, kata dia, biaya investasi untuk pembangunan smelter tersebut cukup besar yakni mencapai US$1—US$2 miliar. Lalu, teknologi yang digunakan juga terbilang rumit dan Indonesia masih belum memilikinya.

“Tidak bisa dimungkiri memang banyak perusahaan dari China yang berminat untuk mengembangkan industri pengolahan bauksit ini, sehingga penguasaan produk yang dihasilkan juga akan dominan diekspor ke China,” ujar dia.

Untuk itu, dia menyarankan agar teknologi yang digunakan untuk pabrik pengolahan bauksit tidak hanya berasal dari China. Rizal menyarankan Indonesia mulai menggaet investor dari negara maju lainnya yang sudah memiliki teknologi tersebut; Jepang, Amerika Serikat (AS), hingga Uni Eropa (UE).

“Pemerintah harus mendorong adanya transfer ilmu dan teknologi dalam industri ini. Bukan hanya memikirkan jumlah investasi, produksi dan pendapatan negara sesaat saja,” tegas Rizal.

Tumpukan alumina di ruang penyimpanan pabrik aluminium./Bloomberg-Nick Paleologos

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan Indonesia saat ini memiliki 14 proyek smelter mineral terintegrasi dengan total nilai investasi US$8,69 miliar (sekitar Rp144,02 triliun), yang didominasi sektor bauksit.

Smelter bauksit terintegrasi sebanyak 6 proyek yang berjalan dengan nilai investasi US$2,18 miliar.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya menyebut 7 smelter bauksit masih mangkrak, dengan progres pembangunan di bawah 60%.

Keenam fasilitas pemurnian terintegrasi itu antara lain: PT Dinamika Sejahtera Mandiri yang terletak di Sanggau, Kalimantan Barat; PT Laman Mining di Ketapang, Kalimantan Barat; dan PT Kalbar Bumi Perkasa yang berlokasi di Sanggau, Kalimantan Barat.

Kemudian, ada pula PT Parenggean Makmur Sejahtera di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah; PT Persada Pratama Cemerlang di Sanggau, Kalimantan Barat; PT Quality Sukses Sejahtera di Pontianak, Kalimantan Barat; serta PT Sumber Bumi Marau di Ketapang, Kalimantan Barat.

Berdasarkan laporan Bloomberg News sebelumnya, Tsingshan Holding Group Co.sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar (sekitar Rp51,40 triliun) di Indonesia.

Kesepakatan antara Tsingshan dan perusahaan perdagangan tersebut mengenai saham minoritas di pabrik peleburan kawasan industri Weda Bay akan memberikan para pedagang tersebut bagian dari hasil produksi dari fasilitas berkapasitas 800.000 ton tersebut, kata orang-orang yang mengetahui masalah ini.

Tsingshan — sebuah perusahaan yang telah menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel — biasanya bermitra dengan produsen lokal dan perusahaan logam terkemuka China.

Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara, tempat Weda Bay berada.

Investasi untuk proyek aluminium baru ini diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar, termasuk pabrik peleburan dan fasilitas pembangkit listrik terkait, kata sumber tersebut. Proyek ini akan dikembangkan dalam dua fase, masing-masing dengan kapasitas 400.000 ton, tambah mereka.

Tsingshan juga mempercepat proyek-proyek aluminium lainnya untuk memungkinkan grup tersebut masuk pada saat terjadi gejolak pasokan.

Dua pabrik di Indonesia akan menambah kapasitas produksi total sekitar 600.000 ton per tahun paling cepat bulan depan, kata sumber tersebut — lebih cepat dari target kuartal ketiga yang direncanakan.

(wdh)

No more pages