Nantinya, kata Nandi, tidak hanya memproduksi baterai yang terpasang pada kendaraan listrik hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV), Toyota bakal turut mengekspor baterai dalam bentuk komponen.
Perseroan meyakini ekosistem kendaraan EV yang terintegrasi bakal memperkuat rantai pasok otomotif nasional, khususnya baterai yang menjadi komponen penting dalam kendaraan listrik.
“Kolaborasi dan investasi ini tidak hanya mendorong pertumbuhan sektor manufaktur melalui pendalaman lokalisasi baterai HEV, tetapi juga membangun industri lokal menjadi produsen komponen bernilai tambah lebih tinggi,” ungkap perseroan.
Proyek pabrik sel baterai kendaraan listrik berkapasitas 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun yang dikembangkan oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026.
CATIB sendiri merupakan perusahaan patungan antara PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan porsi saham 30% dan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai asal China, CATL dengan saham mencapai 70%.
“Tadinya [beroperasi] pada kuartal III-2026, pada September, tetapi kami coba akselerasi pada Juni 2026,” kata Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Pabrik ini nantinya akan memproduksi cel, modul, dan paket baterai sekaligus battery energy storage system (BESS), yang ditujukan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Indonesia.
Pada tahap awal, kapasitas produksi sebesar 6,9 GWh akan meningkat menjadi 15 GWh di tahap kedua.
Di sisi lain, Aditya mengungkapkan pabrik baterai yang termasuk dalam Proyek Dragon—yakni kerja sama IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam, dengan konsorsium CATL dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) — sudah mendapatkan calon pembeli atau offtaker baterainya.
"Saat ini memang untuk yang pabrik yang di Karawang itu sudah memiliki offtaker semua, alhamdulillah," ujar Aditya.
"Misalnya nanti akan dilakukan ekspansi, itu pun tentunya kami akan mengutamakan offtake agreement itu terlebih dahulu, karena memang di dalam prosedur kami juga memang mengharuskan adanya offtaker sebelum kita melakukan investasi," papar Aditya.
(azr/wdh)




























