Logo Bloomberg Technoz

Hingga penutupan perdagangan, indeks LQ45 yang berisikan saham–saham big caps tercatat melemah mencapai 0,41% dan 3,02 poin ke level 755,84.

Adapun saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) memimpin pelemahan saham LQ45 karena telah mengalami penurunan harga mencapai 4,58%. Disusul oleh melemahnya saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang amblas 4,55%.

Sedang saham–saham unggulan LQ45 selanjutnya, seperti saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berada pada zona merah dengan kehilangan 4,04%. Saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) juga melemah 3,68%.

Sama halnya dengan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang melemah 3,63%. Untuk PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sahamnya drop 3,31%.

Utamanya, konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut setelah pada Minggu, Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menembaki serta menyita kapal kargo berbendera Iran, yang pertama sejak blokade mereka dimulai—menutup rapat jendela peluang yang singkat itu, memicu risk–off di pasar saham.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, insiden tersebut terjadi segera setelah Iran mengatakan akan mengizinkan kapal–kapal untuk melintasi Selat Hormuz selama gencatan senjata antara Israel dan sekutu Teheran yang berbasis di Lebanon, Hizbullah.

Presiden AS Donald Trump mengulangi— selat tersebut terbuka, tetapi mengatakan-– blokade Angkatan Laut AS terhadap kapal–kapal Teheran akan tetap berlaku. Iran mengatakan itu tidak dapat diterima dan Hormuz sekali lagi ditutup.

Lantas Teheran kembali menutup jalur air tersebut setelah penolakan AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya sendiri terhadap kapal–kapal Iran.

Setidaknya 13 kapal tanker minyak berbalik arah menuju Teluk Persia, meninggalkan upaya untuk pergi yang dimulai setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan sehari sebelumnya bahwa selat tersebut telah dibuka.

Tidak ada penyeberangan yang terlihat pada Minggu (19/4/2026), menurut data pelacakan yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Hal ini menyebabkan jutaan barel minyak dan sejumlah besar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) terkunci di Teluk Persia, mengancam untuk memperpanjang krisis energi yang telah mengganggu perekonomian global.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, ketegangan antara AS-Iran yang kembali meningkat memudarkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Terlebih lagi, menyitir Phillip Sekuritas Indonesia, gencatan senjata antara AS dan Iran, yang seharusnya berlangsung hingga Selasa, diragukan– setelah AS menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran.

“Iran pada hari Minggu menolak perundingan damai baru dengan AS, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengirim utusan untuk berunding di Pakistan dan akan melancarkan serangan baru terhadap Iran kecuali negara itu menerima persyaratan yang diajukan AS,” terang Phillip dalam catatan terbarunya.

Senada dengan keduanya, Panin Sekuritas menyebut, pelemahan ini dipicu oleh tensi geopolitik AS-Israel dan Iran yang kembali meningkat, pasca kembali ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran serta adanya penangkapan kapal kargo Iran oleh AS di Teluk Oman. 

“Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian pasar,” tegas Panin.

Tersangkut potensi gangguan pasokan energi global yang berimplikasi pada pelemahan nilai tukar rupiah. Terpantau, nilai tukar rupiah berada dibawah tekanan di level Rp17.170/US$ berdasarkan data Bloomberg, dengan arus outflow dana asing yang berlanjut karena kekhawatiran risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak serta ekspektasi meningkatnya tekanan fiskal.

(fad)

No more pages