Berpotensi Raup Rp192 T, Indef Usul RI Kejar Windfall Komoditas
Mis Fransiska Dewi
20 April 2026 11:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemerintah belum optimal dalam memanfaatkan lonjakan harga komoditas global yang seharusnya menjadi sumber tambahan penerimaan luar biasa (windfall). Padahal negara bisa mendapatkan tambahan penerimaan sekitar Rp192 triliun, saat masa lonjakan harga komoditas pada 2022.
Laporan terbaru dari Indef mengungkap adanya ketidakseimbangan dalam tata kelola fiskal sektor sumber daya alam (SDA). Meski penerimaan negara meningkat ketika harga komoditas naik, bagian keuntungan ekstra atau economic rent yang berhasil dihimpun pemerintah masih terbatas.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa mekanisme royalti yang berlaku saat ini belum mampu menangkap windfall secara optimal.
"Rezim royalti saat ini bersifat regresif terhadap windfall . Negara menangkap hanya 10%-15% economic rent saat harga tinggi, tetapi 30%-80% saat harga rendah," tulis Ariyo DP Irhamna dalam laporan tersebut, dikutip Senin (20/4/2026).
Bukan tanpa alasan, persoalan ini muncul karena sistem yang digunakan masih berbasis royalti atas pendapatan kotor, bukan keuntungan bersih. Skema tersebut dinilai kurang adaptif terhadap fluktuasi harga, sehingga negara tidak mendapatkan bagian maksimal saat terjadi boom, namun tetap membebani industri ketika siklus harga menurun.





























