Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak mentah jenis Brent naik 8,37% ke US$103,17 per barel pada 07.00 WIB, begitu juga WTI naik 8,59%  ke US$104,87 per barel.

Kenaikan harga minyak ini membuat mata uang Asia di pasar yang sudah dibuka bergerak melemah.  Won Korea Selatan melemah 0,9%, ringgit Malaysia 0,47%, dolar Singapura 0,31%, yen Jepang 0,3%, yuan offshore 0,2%. 

Melemahnya aset-aset di pasar mata uang Asia lantaran minat investor terhadap aset berisiko semakin turun. Investor bereaksi langsung terhadap konflik, sekaligus meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan inflasi dan perlambatan konsumsi jangka panjang. 

Dari sisi domestik, tekanan inflasi tak terhindarkan meski pemerintah telah berupaya untuk meredamnya dengan menahan kenaikan harga BBM bersubsidi. 

Namun, kenaikan harga yang terjadi pada beberapa barang seperti plastik, dan bahan baku tekstil telah membuat sebagian produsen mengerek harga jual karena kenaikan biaya produksi. 

Selain itu, bagi Indonesia kenaikan harga minyak global secara langsung meningkatkan beban subsidi energi. Kala pemerintah memilih menahan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli, konsekuensinya adalah lonjakan kompensasi yang harus ditanggung APBN. 

Dalam situasi harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel, ruang fiskal RI jadi semakin sempit. 

Dalam konteks ini, pasar keuangan akan sangat sensitif. Defisit yang melebar telah memicu kekhawatiran investor terkait kredibilitas pengelolaan anggaran. Hal ini berpotensi memperbesar tekanan pada rupiah, meningkatkan yield surat utang negara. 

Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan ketidakpastian yang terjadi, manuver diplomasi Indonesia juga nampaknya mulai bergerak. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan terbang ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dalam waktu dekat. 

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan pertemuan tersebut akan menyoroti sejumlah agenda strategis, termasuk urusan energi. 

Langkah ini mencerminkan upaya pemerintah RI untuk mengamankan kepentingan energi sekaligus meredam dampak eksternal yang sepertinya semakin sulit diprediksi. 

Analisis Teknikal 

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Target pelemahan menuju Rp17.110/US$ sampai dengan Rp17.150/US$. Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di ke Rp17.200/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.

Analisis Teknikal Rupiah Senin 13 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk tren bearish, apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi makin melemah hingga Rp17.300/US$ yang tercermin dari time frame daily.

Apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, resistance terdekat berpotensi menuju Rp17.000/US$, sementara range laju rupiah dalam resistance di antara Rp16.950/US$ sampai dengan Rp16.900/US$.

(riset/aji)

No more pages