Logo Bloomberg Technoz

Dolar Anjlok, Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Menguat

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 April 2026 16:04

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup hari dengan penguatan bersama semua mata uang di kawasan sore ini, menyusul meredanya tensi geopolitik seiring kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah. 

Pada perdagangan spot Rabu (8/4/2026), rupiah ditutup menguat 0,5% ke Rp17.010/US$, menyusul lesunya dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya melemah 1,03% ke posisi 98,83.

Harga minyak mentah dunia saat ini telah kembali ke bawah level US$100 per barel. Minyak jenis Brent turun 13,47% ke US$94,64 per barel, dan harga minyak WTI juga ikut turun 15,33% ke US$95,64 per barel. 


Meredanya tekanan harga minyak mentah membuat semua mata uang kawasan Asia kembali menguat. Peso Fiilipina menguat signifikan 1,52%, disusul won Korea Selatan 1,46%, baht Thailand 1,4%, ringgit Malaysia 1,31%, yen Jepang 0,85%, dolar Taiwan 0,65%, yuan China 0,53%, rupiah 0,5%, yuan offshore 0,43%, rupee India 0,41%, dan dolar Hong Kong 0,05%. 

Namun, bagi rupiah penguatan ini tak sampai membawanya kembali ke level Rp16.000-an/US$. Jika ditarik ke awal tahun ini, maka rupiah telah terdepresiasi 1,88%, dan menjadi yang terlemah ketiga di kawasan setelah rupee India (2,96%) dan won Korea Selatan (2,74%).