Logo Bloomberg Technoz

Semua mata uang di pasar yang sudah dibuka menguat menyambut kabar gencatan senjata. 

Rupiah menguat bersama mata uang Asia lainnya, menyusul kabar gencatan senjata antara AS dan Iran selama dua pekan. (Bloomberg)

Meski begitu, tekanan bagi mata uang Asia belum sepenuhnya mereda. Pelemahan dolar AS kemungkinan tidak berlangsung lama, sebab bank sentral AS masih berhati-hati terhadap inflasi dan kecil kemungkinan akan mempercepat penurunan suku bunga acuannya. 

"Kami memperkirakan Federal Reserve akan tetap waspada terhadap tekanan inflasi dan kecil kemungkinan untuk memangkas suku bunga, yang dapat menopang dolar AS," kata Audrey Childe-Freeman, analis Bloomberg Intelligence.

Dia menambahkan, bank sentral di negara-negara Asia mungkin juga perlu lebih agresif menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas mata uang mereka, meski langkah ini tentu saja berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah lesu. 

Meski begitu, dalam jangka panjang dolar AS pada akhirnya berpotensi melemah terhadap mata uang Asia, terlepas dari berapa lama durasi perang Iran berlangsung lantaran pasar akan mengurangi ketergantungannya pada dolar AS atau beralih ke mata uang lain.

"Eskalasi lebih lanjut dari AS berpotensi mendorong pasar kembali ke tema de-dolarisasi," katanya. 

Bagi rupiah, sentimen global yang membaik ini tidak secara otomatis menghilangkan tekanan domestik yang cukup besar. Meski pada pembukaan pagi ini rupiah ikut euforia dan tertopang oleh mata uang kawasan. 

Salah satu penyebabnya adalah masih tingginya kebutuhan dolar AS untuk aktivitas impor, terutama impor energi.

Meski harga minyak mentah turun dengan de-eskalasi perang ini, namun angkanya masih berada di atas asumsi dasar yang disematkan dalam APBN 2026. 

Sementara, dari sisi fiskal, tekanannya juga tidak ringan. Harga minyak yang sudah berada di atas asumsi APBN itu telah memperlebar deifisit.

Kementerian Keuangan kemarin memaparkan bahwa pelebaran defisit APBN dan mencatatkan rekor tertinggi pada kuartal I-2026 dibandingkan periode sama dua tahun sebelumnya. Hal ini terjadi lantaran aksi belanja pemerintah yang cenderung ekspansif. 

Meskipun ada potensi defisit, dalam jangka pendek ketika sentimen global membaik, rupiah punya peluang untuk ikut menguat. Namun tanpa perbaikan fundamental, penguatan itu mungkin cenderung rapuh dan mudah berbalik arah. 

(dsp/aji)

No more pages