Tak hanya itu, Misbakhun juga mempertanyakan mengapa BI tidak mengambil peran lebih agresif sebagai penyedia likuiditas valuta asing (valas). Dia mencontohkan kebutuhan valas Indonesia yang bisa mencapai sekitar US$300 miliar per tahun, yang menurutnya seharusnya bisa diantisipasi sejak awal melalui kontrak besar atau kerja sama strategis tingkat tinggi.
Dia bahkan mendorong adanya pendekatan diplomatik langsung di level kepala negara, seperti pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, guna mengamankan akses likuiditas valas yang lebih kuat.
“Kita tidak punya jalurnya untuk mendapatkan itu, kita hanya punya jalur hedging saja dengan Amerika. Kenapa kita tidak melakukan high level meeting, misalnya Presiden ketemu dengan Trump, Pak Prabowo, untuk meminta liquidity itu?,” jelas dia.
Dengan begitu, lanjut dia, ketika pasar membutuhkan valas dalam bentuk spot atau instrumen lainnya, likuiditas sudah tersedia.
Misbakhun menyadari dirinya memang tidak secara langsung menangani persoalan monitoring, tetapi jika masalah seperti ini terus diselesaikan dengan pendekatan yang sama, maka hasilnya tidak akan optimal.
“Ini yang perlu dilakukan perubahan-perubahan fundamental ini,” tegasnya.
Nilai Wajar Rupiah Rp15.000/US$
Lebih lanjut dia juga mengungkap pandangan bahwa nilai tukar rupiah saat ini kemungkinan berada dalam kondisi undervalued. Berdasarkan diskusinya dengan pelaku pasar, nilai wajar rupiah disebut berada di kisaran Rp15.000/US$ bukan di level Rp17.000/US$.
Menurutnya, pergerakan nilai tukar tidak sepenuhnya didasarkan pada fundamental, melainkan juga sangat dipengaruhi sentimen pasar. Misbakhun memperingatkan dampak langsung pelemahan rupiah terhadap sektor industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan nilai tukar akan meningkatkan biaya produksi dan berujung pada kenaikan harga barang.
“Begitu tekanan ini masuk ke harga pokok industri, mereka langsung menaikkan harga. Ini yang perlu konsolidasi lebih kuat,” imbuhnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup terdepresiasi 0,33% di level terendah Rp17.095/US$, yang merupakan posisi penutupan (closing) terlemah nilai tukar rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Pelemahan rupiah selama tiga beruntun terjadi di tengah isu perang AS-Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel. Bahkan ada beberapa analis yang telah menguji skema jika harga minyak mentah menembus di level US$200 per barel.
Di tengah upaya intervensi stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia, rupiah melemah bersama peso Filipina di tengah kekhawatiran terkait kondisi fiskal yang semakin melebar.
Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan hari ini berbalik rebound seperti won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Taiwan dan Hong Kong.
(ell)





























