Mengapa Iran meminta agar pertandingan mereka dipindahkan?
Setelah sempat memberi sinyal bahwa Iran tetap akan diterima di Piala Dunia FIFA meskipun terjadi perang, Presiden AS Donald Trump berbalik arah pada bulan Maret dengan mengatakan bahwa ia tidak yakin pantas bagi mereka untuk hadir, “demi keselamatan jiwa mereka sendiri.”
Sebagai tanggapan, Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj mengatakan tim Iran tidak akan melakukan perjalanan ke AS. Menteri olahraga negara itu, Ahmad Donyamali, menyatakan bahwa keikutsertaan menjadi mustahil akibat serangan udara AS dan Israel terhadap negaranya.
Duta besar Iran untuk Meksiko meminta agar pertandingan awal Iran dipindahkan dari Los Angeles dan Seattle ke Meksiko, dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan negaranya siap menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.
Jadi, apakah FIFA bisa begitu saja memindahkan pertandingan Iran keluar dari AS?
Secara teknis bisa, tetapi pada 17 Maret FIFA secara resmi menolak permintaan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka menantikan semua tim bertanding sesuai jadwal pertandingan yang diumumkan pada bulan Desember.
Tiket untuk pertandingan Iran di Los Angeles dan Seattle sudah terjual, dan laga-laga tersebut telah diberikan kepada kota tuan rumah tersebut sejak bertahun-tahun lalu, sehingga akan dianggap tidak adil jika acara itu dipindahkan dari pasar yang telah lama melakukan persiapan.
“Hotel tim sudah siap, lokasi latihan sudah siap, stadion sudah siap. Tidak masalah siapa yang bermain di sana,” kata Kathryn Schloessman, Presiden dan Chief Executive Officer Komite Tuan Rumah Los Angeles, dalam podcast Bloomberg Business of Sports.
Bahkan jika pertandingan fase grup Iran dipindahkan, hampir mustahil untuk menghindari bermain di AS pada babak gugur.
Apa saja opsi lain bagi FIFA?
FIFA dapat mempertahankan jadwal saat ini, sehingga memaksa tim Iran untuk memutuskan apakah akan bepergian ke AS atau kehilangan tempatnya di turnamen. Atau, FIFA bisa turun tangan secara langsung untuk menangguhkan atau mengecualikan Iran. Namun, langkah itu hanya dapat dilakukan atas dasar keselamatan, karena statuta FIFA mengharuskan organisasi tersebut menjaga netralitas politik yang ketat dalam semua keputusannya. Kongres tahunan FIFA dijadwalkan berlangsung pada 30 April di Vancouver, di mana mereka dapat bertemu dengan federasi anggota, termasuk Iran, untuk mempertimbangkan situasi ini.
Presiden FIFA Gianni Infantino bertemu dengan tim nasional Iran menjelang laga persahabatan melawan Kosta Rika di Antalya, Turki, pada 31 Maret, dan mengatakan FIFA akan terus mendukung tim tersebut “untuk memastikan kondisi terbaik saat mereka mempersiapkan diri menuju Piala Dunia FIFA.”
Penolakan FIFA untuk mempertimbangkan pemindahan pertandingan Iran ke Meksiko menunjukkan kehati-hatian mereka terhadap perubahan mendadak yang dapat memicu tuduhan bias politik. Infantino sendiri sempat menuai kontroversi saat undian Piala Dunia pada bulan Desember ketika ia memberikan “FIFA Peace Prize” kepada Donald Trump.
FIFA kemungkinan tidak akan mengambil tindakan tegas terhadap Iran kecuali negara tersebut secara resmi menyatakan tidak akan menghadiri Piala Dunia — yang hingga kini belum dilakukan. Situasi ini membuat beberapa tim nasional berada dalam ketidakpastian. Selandia Baru dan Belgia, yang berada di Grup G bersama Iran, menyatakan mereka tetap mempersiapkan pertandingan sesuai jadwal di Los Angeles sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Seberapa realistis Iran bisa ikut serta di Piala Dunia?
Bahkan sebelum perang, warga Iran sudah menghadapi pembatasan ketat untuk bepergian ke AS. Konflik yang terjadi membuat tim semakin sulit mendapatkan penerbangan yang aman dan resmi keluar dari Timur Tengah. Duta besar Iran untuk Meksiko juga mengeluhkan kurangnya kerja sama dari pemerintah AS dalam penerbitan visa dan dukungan logistik.
Jika Iran gagal hadir, FIFA harus segera mencari pengganti. Karena Iran lolos melalui Konfederasi Sepak Bola Asia, kemungkinan besar tempat tersebut akan diberikan kepada tim lain dari kawasan itu.
Bagaimana jika Iran tetap datang untuk bermain di AS?
Pertandingan Iran di AS akan memerlukan pengamanan ketat bagi pemain maupun pendukung. Meskipun warga negara Iran dilarang bepergian ke AS untuk turnamen tersebut, terdapat diaspora besar warga keturunan Iran di AS, banyak di antaranya kemungkinan ingin menghadiri pertandingan. Pada 2024, terdapat sekitar 750.000 warga Iran-Amerika di AS; sekitar 375.000 di antaranya tinggal di California, menurut data Pew Research Center.
Bagaimana politik memengaruhi turnamen sepak bola internasional di masa lalu?
Piala Dunia 1942 dan 1946 dibatalkan sepenuhnya akibat Perang Dunia II. Yugoslavia dikeluarkan dari Kejuaraan Eropa 1992 hanya beberapa minggu sebelum turnamen dimulai karena sanksi terkait Perang Balkan. Pada 1974, tim Uni Soviet menolak memainkan laga kualifikasi di Chile setelah kudeta sayap kanan di negara tersebut, yang berujung pada diskualifikasi mereka. Contoh yang paling mendekati situasi saat ini adalah Piala Dunia 1982 yang berlangsung di tengah Perang Falklands antara Inggris dan Argentina, di mana kedua tim tidak saling bertemu dalam turnamen tersebut.
Apa sanksi yang akan dihadapi federasi sepak bola Iran jika mundur?
Jika sebuah tim telah lolos ke Piala Dunia lalu mundur, aturan FIFA cukup ketat. Berdasarkan Pasal 6 regulasi Piala Dunia 2026, asosiasi anggota secara teknis tidak diperbolehkan mundur secara sepihak setelah berkomitmen mengikuti kompetisi. Besaran sanksi tergantung pada waktu pengunduran diri. Jika mundur lebih dari 30 hari sebelum turnamen, Komite Disiplin FIFA dapat menjatuhkan denda minimal 250.000 franc Swiss (sekitar US$315.000). Jika terjadi dalam 30 hari sebelum kickoff, denda tersebut meningkat menjadi minimal 500.000 franc Swiss. Selain itu, tim Iran juga harus mengembalikan seluruh dana terkait turnamen yang telah diterima dari FIFA, termasuk dana persiapan sebesar US$1,5 juta per tim dan bagian dari biaya partisipasi dasar sebesar US$10,5 juta.
Komite disiplin FIFA juga dapat mengeluarkan federasi tersebut dari kompetisi FIFA di masa depan, yang berarti Iran berpotensi dilarang mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2030. Satu-satunya celah adalah klausul force majeure yang memungkinkan FIFA membebaskan suatu negara dari tanggung jawab dalam kasus perang atau bencana alam. Namun, penerapan klausul ini sepenuhnya berada dalam diskresi FIFA dan dapat memaksa badan tersebut secara resmi mengambil sikap atas konflik — sesuatu yang dihindari karena prinsip netralitas politiknya.
Siapa yang bisa menggantikan Iran?
Tidak ada aturan bahwa pengganti harus berasal dari konfederasi regional yang sama. Namun, preseden historis dan keinginan menjaga keseimbangan geografis membuat kemungkinan besar tempat tersebut tetap berada di kawasan Asia.
Irak sebelumnya dianggap sebagai kandidat utama pengganti Iran karena merupakan tim dengan peringkat tertinggi di kawasan Konfederasi Sepak Bola Asia yang belum lolos saat awal konflik Iran. Namun, Irak resmi lolos ke turnamen pada 31 Maret setelah mengalahkan Bolivia 2-1 di Meksiko.
Hal ini membuat Uni Emirat Arab kini menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Iran jika negara tersebut mundur. UEA berhasil mencapai putaran terakhir kualifikasi kawasan, meskipun kalah dari Irak di putaran kelima.
(bbn)





























