Logo Bloomberg Technoz

Dari dalam negeri, sentimen terkait defisit fiskal belum sepenuhnya reda. Kemarin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Nilai defisit ini tercatat lebih besar dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu yang Rp99,8 triliun, atau setara 0,41% terhadap PDB. Adapun pemerintah menetapkan batas atas defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB.

“Ketika terjadi defisit, masyarakat tidak perlu terkejut karena anggaran memang dirancang dalam kondisi defisit. Jika belanja dilakukan secara merata sepanjang tahun, maka wajar apabila pada triwulan I-2026 defisit terlihat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI.

Prospek Ekonomi

Secara prospek, ekonomi Indonesia masih ditopang oleh permintaan domestik serta adanya intervensi pemerintah lewat berbagai program prioritas, di tengah tekanan eksternal yang masih meningkat. Kenaikan harga minyak mentah tetap masih jadi faktor utama yang berpotensi mendorong laju inflasi sekaligus memperbesar tekanan fiskal. 

Kebijakan pemerintah untuk mempertahan harga BBM bersubsidi memang dapat menjaga daya beli dan konsumsi domestik, akan tetapi di saat yang sama risikonya cukup besar dalam menambah beban anggaran jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama. Selain itu, potensi gangguan pada jalur perdagangan serta rantai pasok juga memengaruhi kinerja neraca eksternal. 

Dalam kondisi seperti ini, sentimen terhadap rupiah cenderung negatif dan membawa rupiah berada dalam tekanan. Kenaikan harga minyak global berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan seiring dengan meningkatnya angka impor energi. 

Di saat yang sama, dolar AS terus menguat lantaran adanya ketidakstabilan geopolitik, membuat mata uang itu jadi aset safe haven. Dalam jangka pendek rupiah berisiko mengalami volatilitas yang lebih tinggi, jika arus modal masuk ke pasar domestik terganggu akibat sentimen dan tekanan yang ada. 

Indeks dolar AS selama sebulan terakhir. Per Selasa 7 April 2026, indeks dolar AS bertahan di level 100. (Bloomberg)

Pasar keuangan nampaknya akan merespons kondisi ini dengan kehati-hatian yang tinggi. Di pasar obligasi respons pasar memang belum terlalu terlihat dan pergerakan imbal hasil masih beragam. 

Di tenor pendek imbal hasil tercatat menurun dengan tenor 1 tahun imbal hasil turun 5,3 bps di 5,84%, tenor 3 tahun turun 0,2 bps ke 6,4%, dan tenor acuan 10 tahun tetap berada di 6,64%. 

Sebagai catatan, investor global sempat mencatatkan penjualan bersih obligasi sebesar US$43,1 juta pada Rabu (1/4/2026) secara harian. Namun secara mingguan, investor asing masih mencatatkan pembelian aset obligasi sebesar US$228,9 juta. 

Dari sisi likuiditas, kemarin volume transaksi SUN meningkat 11,75% menjadi Rp35,0 triliun, dengan frekuensi yang turut naik 7,76%. Hal ini mencerminkan aktivitas pasar yang kian ramai, meski dari sisi imbal hasil masih mengalami kenaikan. 

Sementara itu, obligasi jangka panjang (di atas 10 tahun) masih menunjukkan. kinerja yang relatif lemah dibandingkan acuan utama obligasi tenor 10 tahun. Tekanan juga terlihat pada tenor yang lebih panjang, termasuk tenor 12 hingga 20 tahun, yang pergerakannya cenderung lesu.

Sebaliknya, obligasi jangka pendek, tenor 1 hingga 4 tahun terlihat mencatatkan kinerja yang lebih baik dan pergerakannya lebih stabil. Sementara, tenor menengah seperti 5 tahun hingga 8 tahun, mulai terlihat adanya perbaikan kinerja, meski penguatannya tidak secepat sebelumnya, terutama pada tenor 6 dan 7 tahun. 

Secara umum, investor saat ini cenderung beralih dari obligasi jangka panjang ke tenor pendek dan menengah. Di masa-masa penuh ketidakpastian seperti sekarang, investor agaknya tetap memasang mode hati-hati lebih tinggi daripada masa sebelumnya dalam menempatkan investasi mereka. 

Prospek Rupiah

Jika melihat dinamika yang ada, prospek rupiah dalam jangka pendek masih cenderung tertekan dengan volatilitas yang tinggi. Harga minyak masih bertahan di level tinggi, dolar AS juga masih dalam tren penguatan dan tetap jadi aset safe haven di masa sekarang, meski sesekali tergelincir turun tipis. Ditambah adanya kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan jadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah. 

Selama tekanan tersebut belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Apalagi, adanya kenaikan impor energi berpotensi memperlemah posisi eksternal Indonesia, sementara aliran modal asing masih akan terus sensitif terhadap sentimen yang ada. 

Namun, kondisi ini bukan berarti tanpa penopang. Stabilitas rupiah masih bisa dijaga lewat intervensi Bank Indonesia, pengelolaan likuiditas valas, serta adanya daya tarik imbal hasil aset domestik yang bisa dibilang relatif kompetitif, meski secara premi risiko harus diganjar mahal. 

Selain itu, dengan tidak naiknya harga BBM setidaknya untuk saat ini, konsumsi domesti juga bisa jadi bantalan sementara di tengah gejolak yang ada. 

Dengan sentimen yang ada, baik eksternal maupun secara domestik, agaknya rupiah masih akan bergerak dalam tren sideways dengan bias melemah dalam jangka pendek. Kecuali jika dalam waktu dekat ada arah yang berubah lebih jelas terkait harga minyak, dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 7 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support  Rp17.050/US$. Support selanjutnya bisa menuju Rp17.100/US$ usai penembusan trendline sebelumnya.

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.200/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam perspektif harian.

Sebaliknya rupiah memiliki level resistance terdekat di level Rp17.000/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya di Rp16.900/US$ yang juga menjadi resistance potensial.

- Dengan asistensi M Julian Fadli -

(riset/aji)

No more pages