Logo Bloomberg Technoz

Di Luar Negeri, Rupiah Masih Dijual Rp17.000/US$ Lebih

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 April 2026 08:34

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan pada posisi Rp17.045/US$, di tengah tingginya indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama yang menguat 0,15% menjadi 100,18 pada pembukaan perdagangan.

Indeks dolar AS sempat susut 0,05% menjadi 99,98 lalu kemudian menguat kembali di 100,049, membuat rupiah offshore melemah 0,1% menjadi Rp17.062/US$ pada 08.00 WIB.

Di pasar mata uang yang sudah buka di kawasan Asia, belum banyak perubahan. Hanya ringgit Malaysia melemah 0,08%, dolar Singapura melemah 0,06%, disusul yuan offshore 0,03%, dan yen Jepang 0,06%. 

Pergerakan rupiah offshore selama satu tahun. (Bloomberg)

Harga minyak masih menekan pasar kawasan dengan bertahan di level tertinggi sejak Juni 2022, setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan infrastruktur utama Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi sebelum tenggat Selasa hari ini waktu setempat (7/4/2026). 

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$113 per barel, setelah menguat 0,08% pada Senin, sementara Brent bertahan di level Rp109 per barel. Meski Trump sempat menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran "berjalan baik", dia juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap jadi "prioritas utama".

Pergerakan harga minyak mentah jenis Brent selama setahun, pada Selasa (7/4/2026) harga minyak Brent US$109,4 per barel. (Bloomberg)