PTBA mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan mencatatkan pertumbuhan produksi secara tahunan sebesar 9% yang juga diikuti dengan kenaikan realisasi penjualan sebesar 6%.
Meskipun secara operasional kinerja meningkat, namun harga jual rata-rata (ASP) tercatat menurun 6% secara tahunan seiring dengan harga batu bara yang terus menurun di mana Newcastle Coal Index tercatat menurun 22% dan Indonesia Coal Index-3 turun hingga 16%.
PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun pada tahun lalu, dengan penjualan meningkat 6% secara tahunan. Penjualan domestik tercatat 54%, sisanya diisi dengan pasar ekspor.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan PTBA mencapai Rp36,39 triliun, naik 5% secara tahunan.
Kenaikan beban ini seiring dengan peningkatan volume operasional kendati dari sisi stripping ratio tercatat lebih rendah di angka 6,07 kali dari pada periode tahun sebelumnya di angka 6,23 kali.
Total aset pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp43,92 triliun atau naik 5% dibandingkan akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp41,79 triliun.
Hal tersebut disebabkan adanya kenaikan nilai aset tidak lancar sebesar 12% atau ekuivalen dengan Rp3,12 triliun, yang utamanya diperoleh dari penambahan aset tetap.
Total liabilitas pada 31 Desember 2025 tercatat naik dari posisi pada akhir Desember 2024 sebesar Rp19,14 triliun, menjadi Rp21,30 triliun,yang utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan pinjaman bank.
Sedangkan ekuitas tercatat menurun tipis dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp22,64 triliun menjadi Rp22,62 triliun pada 31 Desember 2025.
(naw)






























