Goldman Sachs Ramal BI Rate Tak Bisa Turun Tahun Ini
News
24 March 2026 10:59

Swati Pandey - Bloomberg News
Bloomberg Technoz, Jakarta - Goldman Sachs Group Inc menghapus kemungkinan pelonggaran moneter di Indonesia, dan bahkan menilai ada potensi kenaikan suku bunga acuan di India dan Filipina. Ini merupakan dampak dari perang di Timur Tengah yang membuat harga energi membumbung tinggi dan mengerek ekspektasi inflasi di Asia.
Bank sentral di berbagai negara yang menghadapi ekspektasi inflasi yang sulit dijangkar, pergerakan nilai tukar mata uang yang lebih sensitif, dan dampak harga bahan bakar minyak (BBM) membuat mereka bisa saja mengetatkan kebijakan moneter. Situasi seperti ini bisa terjadi di Singapura, dan mungkin saja membuat suku bunga acuan di Australia naik.
“Tekanan dari sisi pasokan menjadi tantangan bagi penyusunan kebijakan moneter. Risiko dari proyeksi kami masih dinamis, tetapi cenderung ke atas karena harga energi,” sebut catatan Goldman Sachs.
Harga energi memang sedang ‘mendidih’ akibat konflik di Timur Tengah, yang sudah memasuki minggu keempat. Goldman Sachs memperkirakan jika Selat Hormuz hampir tidak bisa dilalui hingga pertengahan April, maka harga minyak jenis brent bisa melambung ke rata-rata US$ 105/barel sepanjang Maret dan US$ 115/barel pada April. Harga si emas hitam mungkin baru bisa turun ke US$ 80/barel pada kuartal IV tahun ini.
































