Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak yang diperdagangkan di kisaran US$112 per barel memicu kekhawatiran bahwa tingginya harga energi dan terganggunya rantai pasok akan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Indeks saham MSCI EM kini berada di jalur penurunan lebih dari 11% bulan ini—kinerja terburuk sejak September 2022—sementara indeks mata uang telah jatuh 2,6%.

Pasar saham Korea Selatan memimpin pelemahan di Asia, dengan indeks acuan Kospi anjlok hingga 6,4%. Anjloknya kontrak berjangka bahkan sempat memicu penghentian perdagangan otomatis (trading halt) oleh pihak bursa. Raksasa teknologi seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc menjadi yang paling terpukul karena optimisme terhadap AI memudar di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga.

Mata uang Won Korea merosot ke level terlemahnya terhadap dolar AS sejak 2009, meskipun ada pencalonan Shin Hyun Song—pejabat senior Bank for International Settlements yang dikenal sebagai tokoh garis keras—sebagai Gubernur Bank Sentral berikutnya. Di tempat lain, Yuan China melemah setelah bank sentral menetapkan kurs tengah terendah sejak November 2024, sementara Peso Filipina menembus level 60 per dolar, menambah tekanan bagi otoritas setempat untuk membendung kerugian.

"Volatilitas pasar yang ekstrem dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi penggerak utama risiko di Asia-Pasifik," tulis Wee Khoon Chong, pakar strategi senior di BNY. "Bank sentral dan pemerintah diperkirakan akan semakin beralih ke mode defensif: mengintensifkan intervensi valas untuk meredam volatilitas serta menerapkan langkah-langkah makroprudensial demi menjaga biaya hidup masyarakat."

(bbn)

No more pages