Aset Negara Berkembang Rontok Akibat Ultimatum Trump ke Iran
News
23 March 2026 12:20

Matthew Burgess - Bloomberg News
Bloomberg, Aset-aset di pasar negara berkembang (emerging markets) berguguran setelah ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Indeks MSCI Emerging Markets merosot 2,5% pada perdagangan Senin (23/3) pagi, terseret aksi jual besar-besaran pada saham-saham produsen cip Korea Selatan. Sementara itu, indeks yang melacak mata uang negara berkembang turun 0,3%, dengan Peso Filipina bergerak menuju rekor terendah baru.
Aset berisiko terus berada di bawah tekanan seiring perang Iran yang memasuki minggu keempat tanpa tanda-tanda de-eskalasi. Trump memberikan waktu 48 jam bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik mereka—tenggat waktu yang akan berakhir pada Senin malam waktu New York. Sebaliknya, Iran memperingatkan akan menutup jalur air tersebut secara permanen dan menargetkan infrastruktur energi AS serta Israel jika diserang. Di saat yang sama, pasukan Israel menyatakan telah memulai serangan skala besar terhadap infrastruktur di Teheran.
"Pandangan kami adalah sekarang saatnya untuk berhati-hati, bukan panik," ujar Martin Schulz, kepala ekuitas internasional di Federated Hermes, dalam wawancaranya di Bloomberg TV. "Durasi adalah masalah utamanya. Semakin lama konflik ini berlarut-larut, jelas situasinya akan semakin memburuk."




























