Emas Turun 3% Lebih saat Risiko Inflasi dari Perang Iran Menguat
News
23 March 2026 11:20

Yihui Xie- Bloomberg News
Bloomberg, Harga emas merosot tajam dan hampir menghapus seluruh kenaikan harga komoditas tersebut sepanjang tahun ini, seiring perang di Timur Tengah memasuki pekan keempat dan Amerika Serikat serta Iran saling melontarkan ancaman serangan baru.
Logam mulia ini sempat turun hingga 3,8% ke kisaran US$4.320,30 per ons, hanya terpaut kurang dari satu dolar dari posisi penutupan akhir tahun lalu. Sejak konflik dimulai, lonjakan harga minyak mendorong risiko inflasi lebih tinggi sekaligus memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve AS dan bank sentral lainnya. Situasi ini menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, yang telah melemah selama delapan sesi beruntun dan baru saja mencatat penurunan mingguan terdalam sejak 1983.
Pergerakan emas di awal perdagangan yang cenderung tidak stabil mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan. Harga minyak mentah berbalik melemah setelah sempat menguat tipis, sementara pasar saham juga bergerak fluktuatif. Dalam tiga pekan sejak perang pecah pada 28 Februari, penurunan emas antara lain dipicu aksi jual paksa, ketika investor mencari likuiditas untuk menutup kerugian di aset lain. Emas menutup tahun lalu di level US$4.319,37 per ons.
Pada akhir pekan, Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat dua hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya. Iran merespons dengan ancaman akan menutup jalur strategis tersebut sepenuhnya, serta menargetkan infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi jika pembangkit listriknya diserang. Ultimatum tersebut disampaikan Trump pada Sabtu pukul 19:44 waktu New York.





























