Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan tingkat produksi lebih dari 3,5 juta barel per hari pada Januari, pernyataan pemangkasan produksi ini membuat harga minyak melejit. Pagi ini, Brent diperdagangkan mendekati US$110 per barel, lebih mahal sekitar US$40 dari penutupan pekan lalu.
Sebelumnya, perang Timur Tengah telah membuat kapal tanker minyak tertahan di Teluk Persia, tak bisa melanjutkan perjalanan ke Teluk Hormuz. Kondisi ini mengancam rantai pasok minyak global dan telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah.
Dari dalam negeri, pemerintah masih belum mempertimbangkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal ini justru membuat pelaku pasar khawatir dengan kondisi fiskal.
Lonjakan harga minyak juga berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan negara pengimpor energi seperti Indonesia, sekaligus mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven seperti dolar AS.
(dsp/aji)































