Sebaliknya, peso Filipina tergerus 0,65%, baht Thailand 0,51%, dan rupiah 0,14% lalu rupee India 0,09% dan ringgit Malaysia 0,08%.
Di tengah cadangan devisa yang menyusut dari US$154,6 miliar menjadi US$151,9 miliar, rupiah diproyeksikan tengah menghadapi tekanan musiman, lantaran adanya peningkatan permintaan dolar AS menjelang Ramadan. Selain itu, masuknya periode repatriasi dividen oleh perusahaan asing yang secara historis mencapai puncaknya pada April hingga Juli berpotensi menambah tekanan ganda bagi rupiah.
Di sisi lain, kondisi pasar saham yang tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia juga menjadi memangkas penguatan rupiah di pekan ini.
Dari pasar surat utang negara (SUN), yield bergerak cenderung naik di hampir seluruh tenor, mencerminkan sentimen hati-hati investor di pasar obligasi domestik.
Yield tenor pendek 1Y terlihat relatif stabil dengan kenaikan terbatas sebesar 2,1 bps dan berada di level 5,27%, sementara tenor 2Y dan 3Y masing-masing 5,26% dan 5,6%.
Di tenor menengah, kenaikan tenor terlihat lebih jelas. Yield 5Y tercatat naik menjadi 5,95%, sementara 7Y naik ke 6,39% dan 8Y naik ke 6,52%.
Begitu juga tenor benchmark investor 10Y tercatat naik 0,8 bps ke 6,6% yang mengindikasikan bahwa investor mengakhiri pekan ini dengan meminta premi risiko yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian global.
Secara umum, kenaikan yield dan sikap defensif rupiah sore ini mengindikasikan pasar masih bersikap hati-hati terhadap aset berisiko di pasar dometik, seiring sentimen risk-off yang masih menyala di pasar global akibat perang Timur Tengah.
(dsp/aji)






























