Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tertahan di Pasar Offshore, Outlook Fitch Menghantui

Tim Riset Bloomberg Technoz
05 March 2026 07:32

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pagi ini dibuka stagnan, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS terhadap enam mata uang dunia. 

Pada Kamis (5/3/2026), nilai kontrak rupiah dibuka sama dengan posisi penutupan kemarin di Rp16.886/US$, menyusul lemahnya indeks dolar AS yang tergerus 0,29% ke posisi 98,76 setelah kemarin sempat berada di level 99. 

Pergerakan rupiah di pasar NDF dalam tiga hari terakhir, per Kamis (5/3/2026). (Bloomberg)

Pergerakan mata uang di pasar Asia masih akan dipengaruhi oleh dinamika perang yang terjadi di Timur Tengah. Melemahnya indeks dolar AS kemarin menyusul adanya laporan yang menyebut Iran telah menghubungi AS untuk merundingkan akhir konflik. Namun, Iran membantah laporan tersebut. 


Selain perang, kondisi pasar emerging markets dan aset berisiko lainnya masih menghadapi sejumlah hambatan lainnya seperti meningkatnya kekhawatiran penggunaan kecerdasan buatan yang dapat memicu pengurangan tenaga kerja di sejumlah industri.

Meski begitu, secara fundamental, emerging markets masih memiliki kekuatan ekonomi dan mencatatkan laba perusahaan yang relatif solid, menurut Peter Oppenheimer dari Goldman Sachs Group, seperti dikutip dari Bloomberg News