Dari pasar Asia, pergerakan mata uang relatif beragam. Dolar Singapura dan Hong Kong menguat tipis masing-masing 0,02% dan 0,01%. Sementara, pelemahan sudah terjadi pada yuan offshore China sebesar 0,02% dan yen Jepang 0,01%.
Penguatan terbatas di mata uang dolar Singapura dan Hong Kong dapat jadi indikasi bahwa pasar memasang mode risk-on terbatas sambil tetap akan berhati-hati. Namun, di tengah perang yang masih terjadi dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda deeskalasi, tekanan terhadap aset di emerging markets kemungkinan masih akan terjadi.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akan mulai terbatas menyusul adanya kondisi kelebihan pasokan minyak global.
Ditambah adanya pernyataan Fitch Ratings yang menyebut penutupan Selat Hormuz kemungkinan bersifat sementara mengingat peran ekonomi selat ini sangat krusial dan terbatasnya rute alternatif. Meski secara formal selat tersebut belum ditutup, tetapi saat ini banyak kapal pengangkut minyak yang menghindari selat tersebut karena adanya risiko serangan dari Iran.
Posisi harga minyak jenis Brent pagi ini masih menguat 0,74% ke US$82 per barel, tetapi kemudian turun ke US$81,4 per barel.
Dari pasar domestik, dinamika pasar keuangan hari ini akan dibayangi oleh pengumuman Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski begitu, Fitch tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing pada level investment grade BBB.
Penurunan outlook ini terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
“Revisi outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap melemahnya konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan dalam pengambilan kebijakan,” kata Fitch dalam pernyataan yang dirilis pada akhir sesi perdagangan kemarin (4/3/2026).
Fitch kali pertama memberika status investment grade kepada Indonesia pada 2011 setelah perjalanan panjang reformasi fiskal. Dengan adanya perubahan outlook ini, status tersebut berpotensi terancam dan dapat menyebabkan arus modal keluar semakin deras.
Selain laporan Fitch, pergerakan rupiah hari ini masih akan dibayangi oleh arus modal keluar di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kemarin, pasar SBN menghadapi tekanan aksi jual dan mengalami kenaikan yield di hampir semua tenor.
Dengan segala sentimen yang ada dari sisi eksternal dan domestik, rupiah sepertinya hari ini masih akan tertekan meski kemarin pelemahan rupiah relatif terbatas di akhir sesi perdagangan dengan adanya intervensi moneter dari Bank Indonesia.
(dsp/aji)






























