Sementara itu, torium dan uranium akan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Terlebih, kata Fauzan, Indonesia sudah menargetkan porsi penggunaan tenaga nuklir pada PP KEN sebesar 11,7%—12,1% dalam bauran energi primer nasional pada 2060. Walhasil, pemanfaatan torium dan uranium untuk pembangkit nuklir menjadi aspek penting.
“Nah yang kritikal itu yang lain monasit misalkan, itu bisa jadi hilirnya itu salah satunya bisa jadi magnet neodymium, dan tirium itu juga, torium untuk yang PLTN, torium—uranium, itu juga bisa turunan dari monasit,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan perseroan selaku holding BUMN pertambangan bakal terus mempercepat pengembangan hilirisasi minerba di Indonesia.
Maroef menegaskan hilirisasi tersebut bakal dijalankan beriringan dengan pembaruan pencapaian target kecukupan dan ketahanan energi yang tertuang dalam PP KEN.
“Mengenai pembaruan Kebijakan Energi Nasional melalui PP No. 40/2025 memiliki tiga sasaran utama. Pertama, mewujudkan ketahanan energi yang artinya adalah energi harus selalu ada, aman, tidak terganggu, serta memiliki harga yang stabil,” ujar Maroef dalam kesempatan yang sama.
Kedua, Maroef mengklaim MIND ID akan terus menyediakan kebutuhan energi yang mencukupi bagi industri dan masyarat. Ketiga, hilirisasi yang dilakukan bakal dijalankan sejalan tren transisi energi nasional.
Dia menambahkan total konsumsi energi seluruh anak usaha MIND ID berada di kisaran 46 juta gigajoule dengan komposisi penggunaan energi terbarukan mencapai 39% yang berasal dari penggunaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan surya (PLTS).
“Sejalan dengan itu, grup MIND ID tentunya memerlukan peran Dewan Energi Nasional untuk memperkuat memperlancar aspek-aspek sinkronisasi koordinasi lintas sektoral antara masalah perizinan lainnya,” kata Maroef.
Sekadar catatan, Kemendiktisaintek mengungkapkan sedang menggarap 17 proposal riset mengenai mineral kritis di Indonesia.
Proposal tersebut dikerjakan oleh berbagai perguruan tinggi dengan menjadikan perusahaan pelat merah di sektor pertambangan sebagai mitra penelitisan.
Sejumlah BUMN yang tercatat menjadi mitra riset tersebut yakni holding BUMN pertambangan, MIND ID, khususnya PT Timah Tbk. (TINS).
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendiktisaintek I Ketut Adnyana mengatakan riset tersebut akan fokus pada aspek pengembangan mineral kritis di Indonesia.
Nantinya akan terdapat naskah akademik yang diperoleh dari riset tersebut dan diharapkan dapat dijadikan landasan dalam proses hilirisasi lanjutan pada komoditas mineral kritis.
“Kami sudah membuka skema sinergi terkait khusus mineral kritis, akan segera diumumkan ada 17 proposal yang terkait dengan mineral kritis akan kami berikan pendanaan khusus untuk tahap awal untuk melakukan kajian-kajian strategis," ujarnya di sela Minerba Convex 2025, dikutip Jumat (17/10/2025).
(azr/wdh)





























