Meski melambat di akhir tahun, data ini tetap menutup tahun yang cukup solid bagi ekonomi AS. Sebelumnya, ekonomi sempat menyusut di kuartal pertama akibat lonjakan impor menjelang pemberlakuan tarif, namun berhasil bangkit di akhir tahun setelah Trump melunakkan kebijakan tarifnya dan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga.
"Pertumbuhan yang mendasari sebenarnya masih relatif kuat, meskipun terlalu bergantung pada penurunan tingkat tabungan konsumen dan peningkatan belanja bisnis untuk AI," tulis Samuel Tombs dan Oliver Allen dari Pantheon Macroeconomics.
Investasi bisnis tumbuh 3,7%, didorong oleh peralatan pemrosesan informasi yang mencerminkan booming teknologi kecerdasan buatan (AI). Tren ini diperkirakan akan semakin memacu ekonomi tahun ini, dengan empat perusahaan teknologi raksasa AS memproyeksikan total belanja sebesar US$650 miliar pada 2026 untuk pusat data dan peralatan terkait.
Data terpisah dari BEA menunjukkan bahwa ukuran inflasi favorit The Fed—indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE)—naik 0,4% pada bulan Desember, kenaikan tertinggi dalam setahun terakhir. Secara tahunan, PCE inti (yang mengecualikan pangan dan energi) merangkak naik ke angka 3%, dibandingkan 2,8% pada awal 2025.
Kondisi inflasi yang belum jinak ini, ditambah stabilnya pasar tenaga kerja, membuat pejabat The Fed cenderung mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini. Risalah rapat Januari menunjukkan beberapa pembuat kebijakan bahkan menyarankan perlunya kenaikan bunga jika inflasi tetap tinggi.
Meskipun ada optimisme bahwa paket pemotongan pajak Trump akan menyokong belanja awal tahun ini, dunia usaha tetap ragu. Raksasa ritel Walmart Inc. menyatakan nada hati-hati dalam laporan labanya, mengutip kondisi ekonomi yang tidak terduga. Perusahaan pangan seperti General Mills Inc dan Mondelez International Inc juga mengaku waspada terhadap rumah tangga yang kini semakin hemat anggaran.
Tahun 2025 juga tercatat sebagai tahun terburuk untuk perekrutan tenaga kerja (di luar masa resesi) sejak 2003. Hal ini menimbulkan keraguan di kalangan analis mengenai seberapa jauh ekspansi ekonomi dapat bertahan di tengah biaya hidup yang tinggi dan prospek lapangan kerja yang suram.
(bbn)































