Logo Bloomberg Technoz

Output produksi yang tidak optimal, rencana ekspansi yang tertunda, hingga volatilitas harga emas turut menjadi risiko tambahan.

Harga Emas

Volatilitas harga emas yang menjadi perhatian. Dalam riset OCBC Sekuritas Indonesia dijelaskan, meskipun harga emas berada pada level tinggi, pergerakannya sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter global, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, serta dinamika permintaan aset lindung nilai.

Fluktuasi harga emas berpotensi memengaruhi pendapatan dan margin BRMS secara langsung, mengingat seluruh kinerja perseroan sangat bergantung pada realisasi harga emas.

OCBC juga menyoroti bahwa valuasi BRMS yang relatif tinggi membuat saham ini lebih rentan terhadap perubahan sentimen global.

“Dalam kondisi terjadi koreksi harga emas atau pergeseran ekspektasi kebijakan moneter, tekanan terhadap harga saham berpotensi berlanjut, terutama selama perseroan masih berada dalam fase investasi dan transisi operasional,” tulis tim riset OCBC sebagaimana dikutip pada Jumat (20/2/2026).

Ajaib Sekuritas juga menyoroti penghentian sementara aktivitas penambangan di pit utama akibat proses open-pit pushback yang masih berlangsung.

Berdasarkan riset Ajaib Sekuritas, aktivitas pushback mengharuskan penghentian sementara penambangan di dalam pit hingga awal 2026.

“Selama periode ini, produksi emas BRMS hanya mengandalkan pengolahan stok bijih yang tersedia, sehingga volume produksi dan kadar bijih yang diproses berada di bawah tingkat normal,” ujar tim riset Ajaib, dikutip Jumat (20/2/2026).

Pada kuartal III 2025, penjualan emas tercatat sebesar 17.558 ons, dengan kadar bijih rata-rata sekitar 1,3 gram per ton, lebih rendah dibandingkan kadar normal tambang terbuka yang berada di kisaran 1,5 gram per ton.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kinerja jangka pendek perseroan dan menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan saham. Ajaib Sekuritas mencatat bahwa selama fase pushback, pasokan bijih dari tambang terbatas dan produksi ditopang sepenuhnya oleh stok, yang secara struktural menekan volume penjualan.

Meskipun pushback merupakan siklus rutin dalam pertambangan terbuka untuk menurunkan risiko geoteknik dan memperbaiki struktur tambang, fase ini tetap meningkatkan ketidakpastian operasional di mata pelaku pasar.

Meski demikian, Ajaib Sekuritas Asia dan OCBC Sekuritas Indonesia menilai bahwa pengembangan tambang emas bawah tanah Poboya serta ekspansi fasilitas pengolahan CIL di Palu berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, seiring rencana peningkatan kadar bijih dan volume produksi setelah fase transisi operasional selesai.

Keduanya masih memasang sikap bullish untuk saham BRMS dengan rekomendasi buy. Target harga saham BRMS dari OCBC di Rp1.300/saham, sedang Ajaib Sekuritas ada di Rp1.265/saham.

(red)

No more pages