Logo Bloomberg Technoz

Awal tahun ini inflasi mengalami lonjakan 3,6% akibat low base effect adanya diskon tarif listrik pada Januari tahun lalu. Kemudian, memasuki bulan Februari efek musiman ikut menyusul dan diproyeksikan masih berkontribusi terhadap laju angka inflasi. Tak heran jika BI semakin berhati-hati agar pelonggaran tidak memperbesar volatilitas rupiah dan premi risiko. 

Lantas apakah masih mungkin untuk BI melakukan pelonggaran?

Jawabannya iya. Sebab, BI rate 4,75% saat ini masih memiliki ruang pemangkasan lebih lanjut. BI Rate pernah berada di posisi 3,5% untuk menyokong pertumbuhan di masa krisis pandemi Covid-19 pada 2021 hingga 2022. 

Posisi BI Rate dalam lima tahun terakhir. Tingkat suku bunga 4,75% merupakan posisi terendah dalam dua tahun terakhir. (Bloomberg)

Pelonggaran di tahun ini, tentu memerlukan dukungan indikator yang mengkonfirmasi stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Di antaranya: capaian inflasi inti, dan ekspektasi inflasi yang terjaga, nilai tukar rupiah yang terjaga volatilitasnya baik secara harian maupun dari sisi arus modal, kemudian dukungan eksternal dalam hal ini arah suku bunga The Fed serta sentimen risiko global. 

Saat ini, dukungan eksternal juga belum cukup memberi ruang pelonggaran dengan adanya ketegangan antaran AS-Iran. 

Selain itu, indikator lainnya seperti ketahanan eksternal dalam bentuk cadangan devisa, arah defisit transaksi berjalan, serta kebutuhan valuta asing korporasi perlu menunjukkan tekanan yang mereda agar ruang pelonggaran tidak mendorong pelemahan rupiah yang berlebihan. 

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata mengatakan peluang pemangkasan pada triwulan II masih memungkinkan meskipun kecil. "Triwulan II biasanya masih menjadi fase evaluasi pasca lonjakan musiman, termasuk normalisasi inflasi setelah Idulfitri dan pembacaan ulang kondisi arus modal," ujar Josua.

Dengan kondisi tersebut, Josua menyebut pelonggaran lebih dimungkinkan terjadi pada triwulan III, ketika inflasi sudah kembali melandai dan stabilitas pasar keuangan lebih terkonfirmasi. "Kami menilai ruang pelonggaran 2026 terbatas dan lebih mungkin terjadi pada paruh kedua tahun 2026 dengan besaran sekitar 25 basis poin," katanya. 

Sementara menanti kondisi global dan indikator-indikator yang mendukung pelonggaran, BI akan terus memantau dampak dari pelonggaran kebijakan moneter yang sudah ditempuh sebelumnya. Sepanjang 2025, BI Rate sudah dipangkas 125 basis poin (bps).

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini," kata Perry.

(dsp/aji)

No more pages