Proses penghancuran bijih dilakukan pada November tahun lalu, diikuti penumpukan bijih hasil penghancuran pada Desember.
EMAS menyebut tambang Pani akan memulai operasi heap leach dengan kapasitas awal 8 juta ton/tahun (mtpa), meningkat dari rencana sebelumnya sebanyak 7 mtpa.
“Perseroan juga tengah melakukan studi lanjutan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 10 mtpa setelah 2026,” ujar manajemen dalam keterangannya, dikutip Rabu (4/2/2026).
Selain heap leach, EMAS melakukan rekonfigurasi dan percepatan pengembangan fasilitas carbon-in-leach (CIL). Fasilitas tersebut kini ditargetkan mulai berproduksi dengan kapasitas 12 mtpa pada 2028.
Sebelumnya, CIL direncanakan mulai beroperasi pada 2029 dengan kapasitas awal 7,5 mtpa sebelum meningkat bertahap. Pekerjaan tanah untuk fasilitas CIL telah dimulai pada Januari 2026.
Pada tahap komisioning, EMAS melaporkan telah mencapai tonggak penting pada fasilitas absorption, desorption, and recovery (ADR). Dengan capaian tersebut, proyek dinilai siap memasuki tahap irigasi dan produksi emas perdana pada awal 2026.
Dari sisi sumber daya, EMAS mengumumkan peningkatan cadangan bijih emas Pani menjadi 190,3 juta ton dengan kandungan 4,8 juta ons emas selama kuartal IV 2025.
Peningkatan ini memperbesar skala cadangan sekaligus mendukung umur tambang jangka panjang proyek Pani.
Hingga saat ini, perseroan telah merealisasikan belanja konstruksi dan praproduksi sebesar sekitar US$238 juta untuk operasi open-pit heap leach.
Guna mendukung pengembangan proyek, anak usaha EMAS juga memperoleh fasilitas kredit bergulir atau revolving credit facility (RCF) senilai US$350 juta dengan tenor 60 bulan dari sindikasi bank lokal dan internasional.
(art/wdh)




























