Peta Industri Teknologi Berubah, RI Masih di Pinggir Lapangan
Redaksi
26 January 2026 07:19

Bloomberg Technoz, Jakarta - Peta dunia teknologi sedang berubah arah. Saat ini, pabrik-pabrik teknologi yang sebelumnya terkonsentrasi di China mulai menyebar ke berbagai negara. Bukan lantaran pertimbangan nilai ekonomi atau efisiensi, tapi pertimbangan politik dan keamanan. Amerika Serikat (AS) tak mau lagi bergantung pada satu negara sebagai pemasok barang-barang teknologi penting, khususnya chip dan perangkat elektronik.
Di tengah era adopsi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, permintaan terhadap produk semikonduktor meningkat. Hal ini terlihat dari kenaikan saham Global Semiconductor Group versi Bloomberg Intelligence yang melonjak 94% sejak April hingga Desember 2025.
Begitu juga dengan saham produsen elektronik EMS/ODM naik 54%. Keduanya mengungguli kenaikan S&P 500 sebesar 37% dan kenaikan Nasdaq 48%.
Melansir Bloomberg Intelligence lewat laporan berjudul Global Technology Supply Chain-2026 Outlook, diversifikasi manufaktur elektronik global mulai menjauh dari China. Ini sudah berlangsung sejak satu dekade lalu, dan makin dipercepat lantaran ada perang dagang AS-China, pandemi Covid-19, serta meningkatnya risiko geopolitik.
Ketegangan geopolitik yang makin memanas membuat pemerintah negara maju yang memiliki kepentingan terhadap teknologi ini bersedia membayar biaya lebih besar demi mendapatkan pasokan semikonduktor. Akibatnya, negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang akan jadi pemain signifikan dalam manufaktur chip canggih dalam beberapa tahun ke depan.

























