Logo Bloomberg Technoz

Permata Bank Soroti Risiko Kredit dan Geopolitik di 2026

Pramesti Regita Cindy
12 March 2026 21:00

Rudy Basyir Ahmad Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank (tengah) dalam Paparan Publik, Kamis (12/3/2026) (Bloomberg Technoz/ Pramesti)
Rudy Basyir Ahmad Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank (tengah) dalam Paparan Publik, Kamis (12/3/2026) (Bloomberg Technoz/ Pramesti)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Permata Tbk (BNLI) menilai industri perbankan masih akan menghadapi tantangan besar pada 2026, utamanya dari meningkatnya ketidakpastian global seperti konflik geopolitik, perang dagang, serta perlambatan ekonomi China yang dapat berpotensi memengaruhi pertumbuhan kredit.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko utama yang dapat memicu kenaikan harga minyak mentah serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Sebagai catatan saja, harga Brent untuk pengiriman Mei naik 9,3% menjadi US$100,54/barel pada pukul 12.46 siang di Singapura. Sementara itu, harga WTI untuk pengiriman April juga naik 8,7% menjadi US$94,85/barel.


"Jadi tentunya indikasinya ataupun kami sebenarnya sudah membuat assessment ya atau beberapa simulasi skenario. Kira-kira kalau harga minyaknya di berapa dan juga nilai tukar rupiahnya di berapa, maka akan ada kecenderungan untuk pemerintah mulai akan menyesuaikan harga BBM," kata Josua dalam Public Expose Bank Permata 2026 di Jakarta, Kamis (12/3/2026). 

"Probabilitasnya yang cukup tinggi sehingga disini akan juga berimplikasi juga kepada potensi peningkatan inflasi domestik," sambungnya.