Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, jika kita lihat pada penyaluran kredit kondisinya justru timpang. Memang penyaluran kredit pada Desember tumbuh 9,3%, yang ditopang oleh lonjakan kredit investasi lebih dari 20%, sementara kredit konsumsi melambat dengan pertumbuhan 6,4% yoy pada Desember 2025 dari pertumbuhan November 2025 sebesar 7,2%.

Begitu juga dengan kredit UMKM skala mikro dan menengah secara agregat masih terkontraksi sebesar 4,6% dan 2% yoy. Berdasarkan jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Desember 2025 dipengaruhi oleh Kredit Modal Kerja yang terkontraksi 4,2%. 

Laporan uang M2 kali ini menggambarkan bahwa likuiditas yang beredar pada akhir tahun lalu cenderung dinikmati oleh debitur besar dan sektor yang dianggap aman oleh perbankan, seperti industri pengoalahan skala besar dan konstruksi. Seperti, industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, sampai sektor akomodasi. 

Sebaliknya, pelaku usaha mikro dan menengah, yang umumnya lebih padat karya, masih menghadapi hambatan akses pembiayaan. 

BI juga melaporkan bahwa suku bunga kredit dan simpanan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Desember 2025 sebesar 8,80%, menurun dibandingkan suku bunga kredit bulan sebelumnya 8,95%. Begitu juga dengan suku bunga simpanan berjangka juga menurun pada tenor 3 bulan sebesar 4,69%, 6 bulan sebesar 4,73%, 12 bulan sebesar 4,63%, dan 24 bulan sebesar 4,30%. 

Penurunan suku bunga ini ternyata tak cukup kuat untuk mendorong ekspansi kredit. Bagi UMKM, sebenarnya kendala utama bukan tingkat suku bunga melainkan persyaratan agunan, persepsi risiko, dan ketidakpastian permintaan. Jika pemerintah tidak melakukan intervensi kebijakan, pelonggaran moneter ini mungkin hanya memperlebar gap antara debitur besar dan debitur kecil. 

Bank Lebih Hati-hati

Meski likuiditas melimpah di tahun lalu, agaknya bank juga tetap berhati-hati. Hal ini terlihat dengan pertumbuhan uang primer (M0) adjusted yang mencapai 16,8%. Giro bank umum di BI melonjak 35% mengindikasikan insentif likuiditas dan pelonggaran moneter yang agresif di akhir tahun lalu. 

Akan tetapi, lonjakan giro di bank sentral juga mengindikasikan bahwa sektor perbankan cenderung hati-hati. Bukannya menyalurkan likuiditas ke sektor produktif yang punya risiko tinggi, justru bank memilih menahan dana dalam instrumen paling aman. 

Pertumbuhan uang M2 di akhir tahun lalu bukan gagal, tetapi hanya segelintir sektor yang menikmatinya, bukan sektor yang berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97% tenaga kerja: UMKM. 

Ini mengapa, meski uang beredar di akhir tahun lalu tumbuh tak lantas mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi yang merata dan dampak ini dirasakan oleh mayoritas masyarakat.  

(dsp/aji)

No more pages