Logo Bloomberg Technoz

Ruang Pelonggaran Moneter Masih Sempit Meski Uang Primer Melonjak

Redaksi
06 March 2026 16:18

Suasana keramaian di depan kantor Bank Indonesia, Jakarta. Dok: Dimas Ardian/Bloomberg
Suasana keramaian di depan kantor Bank Indonesia, Jakarta. Dok: Dimas Ardian/Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengumumkan uang primer atau base money yang disesuaikan (M0 adjusted) pada Februari 2026 mencapai Rp2.228 triliun, alias tumbuh 18,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini juga lebih tinggi daripada pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 14,7%. 

Sebagai uang yang beredar dalam sistem perekonomian, M0 kerap menunjukkan kondisi likuiditas di sistem keuangan. Uang M0 terdiri dari uang tunai yang beredar di masyarakat dan simpanan bank di bank sentral. 

Dengan adanya kenaikan 18,3% itu, mengindikasikan likuiditas di sistem keuangan Indonesia saat ini relatif longgar. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya simpanan bank di BI. Posisi giro bank umum di bank sentral tercatat sekitar Rp914 triliun pada Februari 2026. 


Kondisi ini menunjukkan bahwa bank sebenarnya memiliki cadangan likuiditas yang cukup besar untuk menyalurkan kredit ke sektor riil, baik untuk pembiayaan usaha, investasi, atau konsumsi masyarakat. Namun, dalam konteks saat ini, lonjakan giro bank di bank sentral menjadi cerminan preferensi bank untuk menahan likuiditas di tengah volatilitas pasar keuangan. 

Selain itu, jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat juga meningkat. Uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.288 triliun. Kenaikan uang tunai ini dapat menjadi gambaran adanya aktivitas ekonomi domestik yang masih tetap berjalan.