Logo Bloomberg Technoz

EBT Dinilai Tak Bisa Jadi Energi Alternatif Saat Perang Meletus

Rosmayanti
10 March 2026 15:10

Turbin pembangkit angin./dok. Bloomberg
Turbin pembangkit angin./dok. Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut energi baru terbarukan (EBT) bukanlah alternatif saat perang mengguncang pasar energi fosil, seperti minyak atau liquefied natural gas (LNG).

Energi baru, menurutnya, hanya berguna sebagai diversifikasi sumber energi yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia setidaknya sejak 2007.

Pada tahun itu terbit Undang-Undang (UU) Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, sebagai awal komitmen pemerintah mengembangkan EBT.


Bauran energi lalu mulai diatur secara terstruktur melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) pada 2014, dengan target 23% EBT pada 2025, yang kemudian direvisi menjadi 17% melalui Peraturan Pemerintah No. 40/2025.

"Pengembangan energi terbarukan sudah masuk ke dalam strategi penyediaan energi kita lewat strategi diversifikasi energi. Jadi diversifikasi itu ada dua, satu macamnya jumlah baurannya yang tadinya energi fosil ditambah energi terbarukan dan ragam-ragamnya ya," ujar Fabby saat dihubungi Bloomberg Technoz, dikutip Selasa (10/3/2026).