Logo Bloomberg Technoz

RI Dinilai Rawan Krisis Energi, Gegara Diversifikasi EBT Gagal?

Rosmayanti
10 March 2026 13:00

PLTS Terapung Cirata berkapasitas 192 megawatt peak (MWp) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Dok. PLN)
PLTS Terapung Cirata berkapasitas 192 megawatt peak (MWp) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Dok. PLN)

Bloomberg Technoz, Jakarta - CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai Indonesia rentan terhadap krisis energi di tengah perang Iran yang sedang berkecamuk. Kegagalan dalam meningkatkan diversifikasi energi terbarukan dipandang menjadi salah satu kontributornya.

Dia mencatat Indonesia menargetkan untuk mencapai bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Namun, karena tidak tercapai, kemudian direvisi menjadi 17% dengan Peraturan Pemerintah No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). 

Dalam realitasnya, berdasarkan laporan Kementerian ESDM pada akhir 2025, bauran energi terbarukan hanya mencapai 15,75% dari target yang telah direvisi sebesar 17%.


"Kenapa energi kita rentan? Ya karena kita gagal meningkatkan [energi] terbarukan. Pertanyaannya justru Menteri ESDM sebagai Ketua Harian DEN dan Presiden sebagai Ketua DEN, maksudnya krisis hari ini tuh juga diciptakan oleh mereka yang tidak serius mengembangkan energi terbarukan selama 10 tahun terakhir," kata Fabby saat dihubungi Bloomberg Technoz, dikutip Selasa (10/3/2026).

Kapasitas terpasang pembangkit EBT di Indonesia sampai dengan semester I-2025./dok. ESDM

Fabby pun menyarankan dua hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam jangka pendek. Pertama, pemerintah harus menganjurkan masyarakat agar tidak panic buying komoditas liquefied petroleum gas (LPG) atau bahan bakar minyak (BBM).