Sebelumnya, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengungkapkan impor bijih nikel dari Filipina berpotensi menyentuh 30 juta ton pada tahun ini, atau lebih tinggi dua kali lipat dari total impor sepanjang 2025 sebanyak 15 juta ton.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusuma menjelaskan kapasitas produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Indonesia pada tahun ini akan mencapai 2,7 juta dry metric ton (dmt) nikel kelas 1 dan kelas 2.
Arif menyatakan Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 40—50 juta wet metric ton (wmt) bijih saprolit dan limonit pada 2026 dari besaran tahun lalu sekitar 300 juta dmt.
Dengan demikian, bijih nikel yang dibutuhkan sepanjang tahun ini berpotensi naik menjadi 340—350 juta ton.
Jika produksi bijih pada 2026 dipangkas menjadi 250 juta ton, terdapat kekurangan pasokan dalam negeri sekitar 100 juta ton bijih.
Atas dasar itu, Arif memprediksi impor bijih nikel akan naik menjadi 50 juta ton tahun ini. Dari besaran itu, 30 juta ton di antaranya berasal dari Filipina.
“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta ton basah (wmt); di mana ≥30 juta ton basah [wmt] berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif ketika dihubungi, Kamis (8/1/2026).
Peningkatan kebutuhan bijih tersebut dipengaruhi ekspansi dan proyek smelter baru di Indonesia terutama dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang mulai beroperasi.
Arif juga menilai kekurangan pasokan bijih nikel dalam negeri tersebut tak dapat ditutupi secara keseluruhan dari impor.
“Diperkirakan masih ada kekurangan sekitar 50 juta ton basah,” ungkap dia.
Di sisi lain, sepanjang 2025 impor bijih nikel dari Filipina diprediksi menanjak ke level 15 juta ton, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 12 juta ton.
Arif menjelaskan 80% impor bijih nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Maluku Utara. Kemudian, sisanya impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan lokasi lainnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor bijih dan konsentrat nikel dari Filipina mencapai 13,87 juta sepanjang Januari—November 2025.
Pada periode tersebut, impor nikel melalui pelabuhan Weda tercatat sebesar 10,91 juta ton. Kemudian, 2,45 juta ton impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Morowali.
Sisanya, 394.667 ton masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Kolonodale. Lalu, 56.650 ton masuk melalui pelabuhan Samarinda dan 53.400 ton masuk melalui pelabuhan Kendari.
-- Dengan asistensi Pramesti Regita Cindy
(azr/naw)





























