Kondisi tersebut makin diperburuk oleh belum rampungnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang membuat banyak perusahaan tambang belum dapat melakukan produksi.
Dia menilai, kenaikan harga komoditas sebenarnya berpotensi meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), khususnya royalti yang dihitung berdasarkan harga jual. Namun, manfaat tersebut akan berkurang apabila produksi dalam negeri terhambat.
Di sisi lain, pemerintah tetap dituntut untuk memastikan penerapan prinsip good mining practices, termasuk kewajiban penempatan jaminan reklamasi dan pemenuhan aspek teknis lainnya sebagai syarat pengesahan RKAB.
"Bagi penambang dengan adanya masalah persetujuan RKAB ini tentu akan menjadi hal yang merugikan karena tidak bisa beroperasi dan tidak mendapatkan penghasilan," ujar Rizal.
"Di sisi lain biaya operasional seperti gaji karyawan dan lain sebagainya tetap harus dibelanjakan," pungkasnya.
Sekadar informasi, pasar logam dasar melonjak tajam pekan lalu, melanjutkan awal perdagangan tahun ini yang kuat, dengan timah dan tembaga sama-sama reli ke rekor harga yang baru.
Timah yang digunakan dalam elektronik dan kemasan sempat melonjak hingga 6% menjadi US$52.495/ton di London Metal Exchange (LME), sehingga kenaikannya sejak awal tahun mendekati 30% dan melampaui puncak yang tercatat pada 2022.
Tembaga memperpanjang penguatannya menembus US$13.000/ton, sementara nikel, seng, dan aluminium juga mencatatkan kenaikan.
Harga logam industri melonjak pada awal tahun baru saat investor bertaruh pada pelonggaran kebijakan The Fed, melemahnya dolar AS, serta sektor-sektor pertumbuhan seperti kecerdasan buatan dan energi terbarukan yang menopang permintaan.
Indeks LMEX yang melacak kinerja enam logam utama, termasuk tembaga dan timah berada di jalur untuk melampaui rekor yang ditetapkan lebih dari tiga tahun lalu.
Timah merupakan pasar dengan likuiditas paling rendah di LME dan rentan mengalami periode volatilitas yang ekstrem.
Gelombang masuk investor China ke komoditas turut mendorong kenaikan, dengan volume perdagangan timah di Shanghai Futures Exchange mencapai rekor harian pada Selasa pekan lalu, sebelum harga melonjak hingga batas harian pada Rabu.
Penggunaan timah dalam penyolderan membuatnya sejak lama dipandang sebagai proksi bagi sektor komputasi, dan dana-dana mengalir deras ke pasar ini seiring kuatnya investasi di bidang kecerdasan buatan dan pusat data.
Seperti halnya logam lain, gangguan pasokan juga memicu sentimen bullish, dengan ketidakpastian ekspor dari Indonesia — produsen terbesar kedua — masih membayangi pasar.
(prc/wdh)





























