Logo Bloomberg Technoz

Surplus Nikel Dunia Diramal Susut 154.000 Ton Meski RI Tekan RKAB

Azura Yumna Ramadani Purnama
20 July 2026 09:30

Sebuah ekskavator memuat truk dengan bijih nikel mentah selama operasi di dermaga pelabuhan Thessaloniki./Bloomberg-Konstantinos Tsakalidis
Sebuah ekskavator memuat truk dengan bijih nikel mentah selama operasi di dermaga pelabuhan Thessaloniki./Bloomberg-Konstantinos Tsakalidis

Bloomberg Technoz, Jakarta – Surplus nikel dunia pada tahun ini diprediksi hanya susut sekitar 154.000 ton dari besaran tahun lalu yang diprediksi sebesar 241.000 ton, meskipun Indonesia telah memangkas kuota produksi bijih dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026

BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, menilai langkah Indonesia memangkas produksi bijih dan permasalahan terkait dengan bahan baku smelter hanya dapat mendorong pengurangan tipis dari kelebihan pasok logam nikel dunia.

BMI tetap memandang penyempitan surplus pasar nikel global tersebut dapat menjaga harga logam nikel tahun ini di atas level 2025. Mereka bahkan merevisi naik proyeksi harga logam nikel 2026 menjadi US$17.000/ton dari sebelumnya US$16.600/ton.


“Meskipun pasar masih berada dalam kondisi surplus, kelebihan pasokan yang lebih kecil tersebut diperkirakan membantu menjaga harga tetap berada di atas level 2025, meskipun surplus pasokan yang masih berlanjut akan membatasi potensi kenaikan harga,” kata BMI dalam riset terbarunya.

Potensi surplus nikel dunia makin menyusut akibat kebijakan Indonesia./dok. BMI

Dalam risetnya, BMI mencatat harga logam nikel rata-rata sepanjang 1 Januari hingga 7 Juli 2026 mencapai US$17.862/ton.