APNI: Revisi RKAB Berlebih Bisa Turunkan Harga Nikel ke US$14.000
Azura Yumna Ramadani Purnama
21 July 2026 09:50

Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memprediksi harga logam nikel bakal bergerak di sekitar US$14.000—US$16.000/ton jika kuota produksi dalam Rencana kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mendapatkan tambahan yang berlebih.
Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey menyatakan revisi RKAB yang dibuka pada 1—31 Juli 2026 bakal menjadi variabel krusial bagi arah harga nikel dan keberlanjutan utilisasi smelter pada semester II-2026.
Dia memprediksi, jika disiplin kuota produksi dilakukan secara konsisten, maka harga nikel berpotensi tetap bertahan di rentang US$17.000—US$20.000/ton.
“Skenario penambahan kuota signifikan berisiko menekan harga kembali ke kisaran US$14.000—16.000/ton, sementara disiplin kuota yang konsisten berpotensi mempertahankan harga pada level US$17.000—20.000/ton,” kata Meidy dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Meidy mencatat sepanjang Januari—Juni 2026 harga rata-rata nikel di London Metal Exchange (LME) bergerak cukup volatil, yakni; sebesar US$17.100/ton pada Januari 2026, turun ke US$16.450/ton pada Februari 2026, kemudian melonjak ke US$19.450/ton pada Mei, dan terkoreksi ke sekitar US$17.850/ton pada Juni 2026.


































