Logo Bloomberg Technoz

Efek Krisis Sulfur, Produksi Smelter Nikel HPAL RI Cuma Tumbuh 3%

Azura Yumna Ramadani Purnama
20 July 2026 08:30

Gundukan sulfur di dekat Pelabuhan Los Angeles di Los Angeles, California, AS./Bloomberg-Kyle Grillot
Gundukan sulfur di dekat Pelabuhan Los Angeles di Los Angeles, California, AS./Bloomberg-Kyle Grillot

Bloomberg Technoz, Jakarta – BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, meramal produksi smelter nikel nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia hanya sanggup tumbuh sebesar 3% secara tahunan pada 2026, jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir sebesar 23,2%.

Dalam analisis terbarunya, BMI menilai anjloknya produksi smelter HEPAL terjadi akibat kendala pemenuhan pasokan sulfur—khususnya dari kawasan Teluk Persia — yang dibutuhkan dalam proses pelindian asam bertekanan tinggi.

Meskipun konflik di Timur Tengah mereda, harga sulfur masih berada di sekitar level tertinggi sepanjang masa sebesar US$860/ton.

Tren kenaikan harga sulfur pada 2026 terus berlanjut./dok. BMI

BMI menilai risiko gangguan pasokan bahan baku smelter HPAL belum kembali normal sehingga fasilitas HPAL di Indonesia terdampak secara langsung, lantaran memiliki ketergantungan pada pasokan asam sulfat (olahan sulfur) untuk memproduksi produk antara nikel.

“Dalam konteks tersebut, kami memperkirakan produksi nikel olahan Indonesia akan tetap tumbuh pada 2026, meskipun dengan laju yang jauh lebih lambat dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir," tulis para analis BMI dalam catatan terbarunya bulan ini.