Logo Bloomberg Technoz

“Ini menunjukkan apa yang terjadi ketika rotasi menyasar saham-saham yang mendominasi indeks utama,” tulis Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick, dalam sebuah catatan.

Sementara itu, Mahkamah Agung AS pada Rabu belum memberikan putusan atas gugatan terhadap tarif yang diberlakukan Trump, sehingga dunia harus menunggu setidaknya hingga pekan depan untuk mengetahui nasib kebijakan ekonomi andalan tersebut.

Masih pada Rabu, seiring laporan kinerja keuangan dirilis, saham Wells Fargo & Co anjlok setelah laba meleset dari perkiraan. Kekhawatiran terhadap prospek biaya Bank of America Corp turut menutupi kinerja yang sebenarnya solid. Saham Citigroup Inc juga melemah setelah para eksekutif puncak meredam antusiasme analis terkait kemajuan bank tersebut dalam memenuhi persyaratan regulasi utama dan menekan biaya.

“Ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kali ini sangat tinggi,” kata Matt Maley dari Miller Tabak. “Jika ekspektasi itu tidak terpenuhi di pasar saham saat ini—yang sudah dihargai nyaris sempurna—maka tekanan akan muncul.”

Meski indeks S&P 500 turun seiring pelemahan seluruh saham Magnificent Seven, lebih dari 300 emiten di dalam indeks tersebut justru mencatatkan kenaikan. Saham berkapitalisasi kecil terus mengungguli, dengan indeks Russell 2000 mengalahkan S&P 500 untuk sesi kesembilan berturut-turut—menyamai rekor terpanjang sejak 1990.

Obligasi pemerintah AS tetap menguat setelah serangkaian data ekonomi dinilai belum cukup untuk mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Pasar uang masih memproyeksikan pemangkasan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berikutnya baru akan terjadi pada pertengahan 2026.

Dari sisi makroekonomi, penjualan ritel AS pada November mencatat kenaikan terbesar sejak Juli, didorong rebound pembelian kendaraan dan belanja liburan yang tetap kuat. Inflasi di tingkat grosir sedikit meningkat akibat lonjakan biaya energi, sementara harga jasa tercatat stagnan.

Di sisi lain, optimisme di kalangan klien Goldman Sachs Group Inc melonjak ke level tertinggi dalam sekitar satu tahun, seiring kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi global mengalahkan kekhawatiran geopolitik dan makroekonomi.

Indikator Risk Appetite Goldman naik ke level tertinggi sejak awal 2025, menempatkannya di persentil ke-96 secara historis, berdasarkan data dari meja perdagangan bank tersebut.

Meski selera risiko yang tinggi kerap dipandang sebagai tanda euforia berlebihan, pertumbuhan ekonomi yang dinamis di AS dan wilayah lain dapat membenarkan pandangan optimistis kali ini, ujar Lee Coppersmith, Managing Director di Goldman Sachs.

(bbn)

No more pages