Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah usai Wall Street Terkoreksi
News
15 January 2026 06:40

Anand Krishnamoorthy - Bloomberg News
Bloomberg, Indeks saham acuan Asia diprediksi akan turun dari rekor tertingginya menyusul pelemahan di Wall Street. Para investor di bursa AS mulai melakukan rotasi portofolio dengan melepas saham-saham teknologi yang valuasinya dianggap sudah terlalu tinggi.
Kontrak berjangka (futures) untuk indeks saham Jepang, Hong Kong, dan China daratan terpantau kompak melemah pagi ini (15/1). Hal ini terjadi setelah indeks Nasdaq 100 yang padat teknologi anjlok 1,1% pada penutupan Rabu. Meski mayoritas emiten di S&P 500 masih menghijau, indeks tersebut ditutup melemah 0,5% akibat terseret jatuhnya saham-saham teknologi raksasa (megacaps).
Harga minyak turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya mendapat jaminan bahwa Iran akan menghentikan pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa, sebuah sinyal bahwa Washington dapat menahan diri dari respons militer yang sebelumnya diancamkan atas penindasan demonstrasi. Minyak mentah West Texas Intermediate turun hingga 3% setelah penutupan perdagangan Rabu. Di sisi lain, kenaikan harga obligasi pemerintah AS mendorong imbal hasil tenor 30 tahun ke level terendah tahun ini. Pasar logam melanjutkan reli, dengan emas, perak, dan tembaga menembus rekor tertinggi.
Sepanjang tahun ini, saham Asia mencatat kinerja lebih baik dibandingkan Wall Street, didorong valuasi yang relatif lebih murah serta berlanjutnya taruhan investor pada tema kecerdasan buatan. Sebaliknya, pekan-pekan awal tahun di AS diwarnai rotasi keluar dari saham-saham teknologi raksasa, yang selama ini menjadi pilihan aman berkat kinerja laba yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.
































