Logo Bloomberg Technoz

Bursa Asia Diprediksi Melemah Usai Obligasi AS Anjlok

03 March 2026 06:30

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Richard Henderson - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia menghadapi tekanan baru pada perdagangan Selasa (3/3) seiring pecahnya perang di Iran yang memicu lonjakan harga minyak. Situasi ini memperkuat kekhawatiran inflasi yang menekan pasar obligasi, sementara investor mulai beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham di Jepang dan Australia tercatat melemah, sementara Hong Kong justru sedikit menguat. Di bursa AS, indeks S&P 500 ditutup stagnan pada Senin malam setelah sempat tertekan di awal sesi, sedangkan Nasdaq 100 naik tipis 0,1%. Sektor energi dan pertahanan menguat, namun saham maskapai penerbangan rontok akibat lonjakan biaya bahan bakar. Sementara itu, harga emas meroket hingga melampaui US$5.300 per ons.


Lumpuhnya lalu lintas di Selat Hormuz serta gangguan pada kilang besar di Arab Saudi mempertegas ancaman nyata terhadap pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% pada Senin, sementara harga gas alam di Eropa melambung setelah Qatar menutup kilang ekspor LNG terbesar di dunia.

Kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi akan mengerek inflasi dan menghambat pelonggaran kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) turut menekan pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Treasury 10-tahun AS naik 10 basis poin menjadi 4,03%. Para pelaku pasar kini memprediksi pemangkasan suku bunga perdana AS baru akan terjadi pada September mendatang. Sementara spekulasi penurunan suku bunga ketiga pada 2026 hampir menghilang. Dolar AS menguat 0,7%.

Pergerakan minyak WTI. (Sumber: Bloomberg)